Ilustrasi- HIV/AIDS.(Antara)
DINAS Kesehatan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, melaporkan adanya peningkatan kasus HIV/AIDS yang cukup signifikan pada periode Januari hingga Juni 2026. Berdasarkan data Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) yang telah tervalidasi secara nasional, tercatat sebanyak 88 kasus baru ditemukan dalam enam bulan pertama tahun ini.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, mengungkapkan bahwa temuan ini didominasi oleh kelompok usia produktif dengan faktor risiko tertinggi berasal dari kelompok lelaki seks dengan laki-laki (LSL). Secara kumulatif, sejak tahun 2004 hingga Juni 2026, total kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya telah mencapai 1.595 kasus.
Tren Peningkatan Kasus
Suryaningsih menjelaskan bahwa tren kenaikan kasus ini mulai terlihat mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun berbagai upaya pencegahan dan skrining terus dilakukan secara masif, angka temuan kasus baru tetap menunjukkan grafik yang fluktuatif namun cenderung tinggi.
| 2022 | 145 |
| 2023 | 145 |
| 2024 | 169 |
| 2025 | 146 |
| 2026 (Januari - Juni) | 88 |
Profil Risiko dan Sebaran Wilayah
Data menunjukkan bahwa mayoritas pengidap adalah laki-laki, yakni sebanyak 72 orang atau 82%, sementara perempuan tercatat 16 orang atau 18%. Dari sisi usia, kelompok 21-30 tahun menjadi yang paling terdampak dengan persentase mencapai 47%, disusul kelompok usia 31-40 tahun sebesar 26%.
Adapun sebaran kasus terbanyak ditemukan di empat kecamatan, yaitu:
- Kecamatan Tawang
- Kecamatan Cipedes
- Kecamatan Cihideung
- Kecamatan Kawalu
Selain kelompok LSL, risiko penularan juga diidentifikasi pada kelompok waria, wanita pekerja seks (WPS), ibu hamil, pasien TB, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), serta pengguna narkoba suntik (penasun).
Pentingnya Pengobatan ARV
Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mendorong masyarakat yang berisiko tinggi untuk melakukan skrining sedini mungkin. Suryaningsih menekankan bahwa meskipun belum ada obat yang menyembuhkan total, pengidap HIV/AIDS (ODHA) dapat menjalani hidup normal dengan syarat rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) seumur hidup. (AD/I-1)
Keterangan: Fungsi ARV adalah menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi, menurunkan risiko penularan, serta menjaga daya tahan tubuh agar kualitas hidup ODHA tetap terjaga, terutama bagi mereka yang berada di rentang usia angkatan kerja (15-49 tahun). Upaya pencegahan terus diperkuat melalui perluasan jangkauan skrining pada populasi kunci guna memutus mata rantai penularan di wilayah Kota Tasikmalaya.


















































