Inisiator Kaukus Keswa sekaligus peneliti kesehatan masyarakat, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH(MI/HO)
KAUKUS Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa kembali menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani isu kesehatan mental di Indonesia. Melalui diskusi lintas komunitas yang digelar bersama "Peluk Diri", organisasi ini menekankan bahwa tanggung jawab kesehatan jiwa tidak boleh hanya bertumpu pada tenaga profesional dan fasilitas pelayanan kesehatan semata.
Inisiator Kaukus Keswa sekaligus peneliti kesehatan masyarakat, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyatakan bahwa paradigma kesehatan jiwa harus mulai bergeser.
Menurutnya, pendekatan yang selama ini berpusat pada pengobatan (kuratif) perlu diseimbangkan dengan penguatan pada aspek pencegahan dan dukungan sosial di tingkat akar rumput.
“Kesehatan jiwa tidak bisa hanya diselesaikan di ruang praktik psikolog, psikiater, atau fasilitas kesehatan. Sebagian besar kehidupan manusia berlangsung di keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas. Karena itu, kesehatan jiwa harus menjadi gerakan bersama masyarakat,” ujar Ray, yang juga dikenal sebagai pendiri Health Collaborative Center.
Ray menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima program pasif. Kaukus Keswa mendorong agar kesehatan mental menjadi topik perbincangan sehari-hari guna menghapus stigma dan meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap isu ini. Komunitas dianggap sebagai garda terdekat yang mampu memberikan dukungan awal sebelum seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Berikut adalah profil singkat mengenai Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa berdasarkan data organisasi:
| Nama Organisasi | Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa) |
| Waktu Pendirian | November 2023 |
| Ketua Umum | Prof. Nila Moeloek |
| Inisiator Utama | Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Kristin Samah, Maria Ekowati, Rofikoh Rokhim, Bagus Takwin, almarhum Romo Muji |
| Fokus Kegiatan | Advokasi, edukasi, dan diskusi lintas komunitas bulanan |
Diskusi ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemangku kebijakan. Dengan menempatkan kesehatan jiwa sebagai bagian integral dari pembangunan manusia Indonesia, diharapkan tercipta ekosistem sosial yang lebih suportif dan tangguh secara mental. (Z-1)


















































