Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon membubuhkan tanda tangan saat penetapan Tugu Koperasi sebagai bangunan cagar budaya.(MI/KRISTIADI)
PEMERINTAH mencanangkan revitalisasi dan penetapan cagar budaya kawasan Tugu Koperasi seluas 9.432 meter persegi di Jalan Mohamad Hatta, Kota Tasikmalaya. Revitalisasi sesuai Rancangan Anggaran Biaya (RAB) membutuhkan dana sebesar Rp 1,6 miliar.
Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono mengatakan, kawasan dan bangunan bersejarah Tugu Koperasi di wilayah Kota Tasikmalaya direvitalisasi dan ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Tugu itu menjadi peringatan digelarnya kongres pertama Koperasi Indonesia pada 11-14 Juli 1947
Penetapan cagar budaya sudah disetujui Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Bangunan bersejarah Tugu Koperasi Kota Tasikmalaya menjadi cagar budaya nasional. Ini menjadi tempat peringatan dimulainya gerakan koperasi yang mampu membangkitkan ekonomi. Bangunan ini bukan hanya tempat bersejarah. Koperasi telah menjadi dasar ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat," ujarnya, Minggu (26/7).
Menurut Ferry, tugasnya sebagai menteri ialah harus membina koperasi. Saat ini sudah 130 ribu koperasi sudah berdiri di Indonesia. Mereka bergerak mulai dari bidang distribusi, industri dan keuangan.
Koperasi harus terus dibangun dan dikembangkan menjadi kekuatan di Indonesia. Untuk itu, revitalisasi dan pencanangan bangunan cagar budaya koperasi Indonesia dilakukan.
"Anggaran revitalisasi sebesar Rp 1,6 miliar berasal dari dana corporate social responsibility (CSR), Gerakan koperasi, Kementerian Koperasi dan Kementerian Budaya. Ke depan kawasan dan bangunan Tugu Koperasi dapat kembali menggerakan ekonomi bagi masyarakat terutama di sentra tenun, batik, bordir, dan sarana prasarana lainnya," tandas Ferry.
KOPERASI TERUS DIHIDUPKAN
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, pihaknya merasa senang gerakan koperasi masa Kemerdekan terus dihidupkan. Koperasi tumbuh berkembang ketika kongres koperasi pertama di Tasikmalaya dilaksanakan dan hidup sampai sekarang.
"Hari Koperasi ke 79 menjadi penting. Tidak hanya koperasi sebagai pembangkit ekonomi, tapi juga makna sejarah. Saat itu, Tasikmalaya telah menjadi pusat produksi, ekonomi dan pemerintahan di Jawa Barat," tandasnya.
Kawasan Tugu Koperasi sempat hendak dibeli investor dengan nilai Rp60 miliar. Tapi, dibatalkan dan dipertahankan sebagai monumen koperasi, yang menjadi bagian budaya gotong royong, bekerja sama dan kemakmuran.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan mengungkapkan, Tugu Koperasi berada di atas lahan 9.432 meter persegi. Ke depan, semangat koperasi diyakini akan kembali menumbuhkan semangat ekonomi, dan menanamkan ideologi koperasi bagi generasi gen Z.
"Koperasi masih sangat dibutuhkan di Tasikmalaya, karena menanamkan ekonomi kerakyatan. Di daerah ini masih banyak bank emok, sehingga koperasi bisa menjadi solusi," tandasnya.


















































