Personel Manggala Agni Daops Bukit Tempurung, Jumat (21/8), terlihat berjibaku dan ekstra hati-hati menghindari tumbangan pohon pinang saat melakukan pemadaman lidah api yang merambat di bawa permukaan gambut.(Dok Manggala Agni)
RATUSAN pohon pinang milik masyarakat di Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi, bertumbangan akibat kebakaran lahan gambut yang terus meluas dalam dua hari terakhir. Kebakaran hebat ini memaksa tim gabungan bekerja ekstra keras untuk memadamkan api yang merambat di bawah permukaan tanah.
Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Bukit Tempurung, Sandy Prabowo, mengungkapkan bahwa titik api pertama kali terdeteksi melalui patroli drone pada Kamis (20/8) siang. Kebakaran tersebut memanggang areal perkebunan pinang produktif di sekitar Desa Muntialo.
Menindaklanjuti temuan tersebut, pasukan Manggala Agni bersinergi dengan Tim Satgas Darat Penanganan Karhutla Kabupaten Tanjungjabung Barat langsung terjun ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Hingga Kamis sore, tim berhasil mengendalikan api di permukaan lahan seluas kurang lebih satu hektare.
Namun, karakteristik lahan gambut membuat pemadaman tidak bisa dilakukan dengan cepat. Meski api di permukaan sudah tidak terlihat, asap tebal masih terus mengepul dari lapisan bawah tanah. Karena keterbatasan waktu dan sumber daya pada hari pertama, tim memutuskan untuk melanjutkan operasi pemadaman total pada Jumat (21/8) pagi.
Hingga Jumat siang, petugas di lapangan masih berjibaku menjinakkan lidah api yang diduga kuat merambat di bawah lapisan permukaan gambut. Koordinator Pemadaman Manggala Agni Daops Bukit Tempurung, Demin, menyebutkan sejumlah kendala serius yang dihadapi personel di lapangan.
"Selain kesulitan sumber air dan tiupan angin yang kencang, personel harus ekstra hati-hati saat menjelajah lahan. Ratusan pohon pinang yang sudah terbakar sejak Kamis kemarin sangat rawan tumbang dan membahayakan keselamatan tim pemadam," ujar Demin.
Kondisi lahan yang labil dan ancaman pohon tumbang menjadi tantangan utama dalam upaya pendinginan area agar api tidak kembali muncul ke permukaan dan meluas ke perkebunan warga lain. (I-2)


















































