Kebaya Tak Lagi Sekadar Warisan Budaya, Kini Jadi Peluang bagi UMKM dan Industri Kreatif

2 days ago 1
Kebaya Tak Lagi Sekadar Warisan Budaya, Kini Jadi Peluang bagi UMKM dan Industri Kreatif Acara Ngobrol Santai Hari Kebaya Nasional 2026(MI/PANJI ARIMURTI)

GERAKAN berkebaya tidak lagi sebatas upaya melestarikan busana tradisional. Meningkatnya minat masyarakat, terutama generasi muda, mulai membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM yang bergerak di sektor kebaya dan produk turunannya.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah Nona Srikaya. Pendiri Nona Srikaya, Thiifa, mengatakan penjualan produknya meningkat hingga 300 persen setelah gerakan berkebaya semakin berkembang.

"Kami ingin menjadikan kebaya sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang terasa jauh. Banyak perempuan sebenarnya ingin memakai kebaya, hanya saja belum percaya diri untuk memulainya," ujar Thiifa dalam Ngobrol Santai Hari Kebaya Nasional 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (8/8).

Menurut Thiifa, semakin banyak anak muda yang mulai tertarik mengenakan kebaya membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menghadirkan produk yang lebih dekat dengan selera generasi sekarang.

Ia pun mengajak perempuan yang belum pernah mengenakan kebaya untuk tidak ragu memulainya.

"Kalau belum pernah memakai kebaya, coba saja dulu. Mulailah dengan memilih kebaya berwarna yang kamu sukai. Dari situ rasa percaya terhadap kebaya akan tumbuh dengan sendirinya," katanya.

Peningkatan penjualan juga dirasakan pengusung kebaya funky yang menghadirkan inovasi dari sisi desain. Ia menyebut penjualannya mengalami kenaikan hingga 100 persen seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kebaya.

Meski demikian, inovasi tersebut dinilai tidak harus menghilangkan identitas kebaya. Modifikasi desain justru dapat menjadi ruang kreativitas untuk membuat kebaya semakin relevan dengan gaya hidup generasi muda.

Desainer sekaligus akademisi fesyen Dr. Lenny Agustin Ernawati mengatakan meningkatnya minat terhadap kebaya tidak terlepas dari kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan budaya Indonesia.

Menurutnya, desainer memiliki peran penting dalam membuat kebaya tetap relevan tanpa kehilangan karakter dasarnya.

"Kebaya menjadi tren karena masyarakat semakin sadar bahwa budaya harus dijaga. Banyak desainer kemudian menghadirkan kebaya modern yang tetap mempertahankan bentuk dasarnya namun relevan dengan perkembangan zaman. Kebaya itu muda, keren, modern, dan sangat cute," ujarnya.

Sementara itu, budayawan sekaligus Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, melihat kebaya memiliki modal kuat untuk diterima generasi muda karena menawarkan unsur keaslian dan ruang eksplorasi kreativitas.

"Anak muda saat ini kreatif dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Mereka mencari sesuatu yang otentik dan unik, dan kebaya memenuhi syarat untuk itu. Kebaya yang dulu dianggap kuno justru menjadi ruang eksplorasi kreativitas bagi generasi muda," kata Ngatawi.

Menurut dia, kebaya tidak sekadar pakaian, tetapi juga membawa nilai, norma, estetika, etika, serta karakter budaya Nusantara. Nilai tersebut kini kembali diaktualisasikan melalui kreativitas generasi muda dalam desain dan fesyen.

Pembahasan mengenai hubungan antara kebaya, budaya, dan ekonomi kreatif tersebut menjadi bagian dari Ngobrol Santai Hari Kebaya Nasional 2026 bertema "Gerakan Berkebaya: Menggerakkan UMKM, Menguatkan Budaya dan Ekonomi Indonesia".

Acara tersebut mempertemukan pegiat budaya, akademisi, desainer, pelaku industri, komunitas, media, dan UMKM untuk membahas bagaimana gerakan berkebaya dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat.

Selain diskusi, acara turut diramaikan Fashion Show Generasi Muda Berkebaya yang menampilkan berbagai interpretasi kebaya modern. Peragaan tersebut menunjukkan bahwa kebaya dapat dikenakan dalam beragam kesempatan sekaligus tetap membawa nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |