Kebutuhan Listrik Diprediksi terus Naik imbas Industrialisasi dan Kendaraan Listrik

4 days ago 3
Kebutuhan Listrik Diprediksi terus Naik imbas Industrialisasi dan Kendaraan Listrik ilustrasi(Antara)

Pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi diproyeksikan meningkatkan kebutuhan listrik Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. Selain industri, permintaan energi juga berpotensi datang dari pusat data, bangunan, kendaraan listrik, hingga elektrifikasi rumah tangga. Peningkatan kebutuhan tersebut membuat Indonesia perlu menyiapkan sistem kelistrikan yang tidak hanya mampu menyediakan kapasitas lebih besar, tetapi juga efisien dan fleksibel dalam mengikuti perubahan pola konsumsi energi.

GIZ Energy Programme Director Lisa Tinschert mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat industrialisasi seiring pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja. Namun, perkembangan tersebut akan diikuti peningkatan kebutuhan listrik, terutama dari sektor industri.

“Industri merupakan salah satu sektor yang akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan listrik,” ujar Lisa dalam Katadata SAFE 2026 pada sesi bertajuk Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth, Rabu (16/9).

Menurut Lisa, pusat data menjadi salah satu sumber permintaan listrik baru yang masih sulit diproyeksikan. Tantangannya bukan hanya memperkirakan seberapa besar pertumbuhannya, tetapi juga memahami karakteristik beban listrik pusat data yang berbeda dengan sektor lainnya.

Kebutuhan listrik dari bangunan juga diperkirakan terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pendinginan di sektor rumah tangga dan industri. Sementara itu, elektrifikasi transportasi akan menambah permintaan seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Elektrifikasi juga berpotensi meluas ke sektor rumah tangga, antara lain melalui penggunaan peralatan berbasis listrik seperti kompor listrik.

“Secara umum, ada dorongan menuju elektrifikasi dan pertumbuhan permintaan energi yang signifikan. Indonesia sekarang berada di persimpangan untuk menentukan dari mana kapasitas pembangkitan baru tersebut akan berasal,” kata Lisa.

Namun, Lisa menilai pemenuhan kebutuhan listrik tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah kapasitas pembangkit listrik. Efisiensi energi juga perlu menjadi bagian dari strategi menghadapi pertumbuhan permintaan. Menurutnya, peningkatan efisiensi dapat membantu Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa harus diikuti peningkatan konsumsi listrik dalam proporsi yang sama. Pada saat yang sama, efisiensi energi juga berpotensi membantu menekan emisi.

Fleksibilitas Sistem dan Pembiayaan Jadi Perhatian

Di sisi lain, Managing Director of Development Investment Danantara Development Management Fund (DDMF) Rachmat Kaimuddin menilai fleksibilitas sistem kelistrikan juga perlu tercermin dalam desain pembiayaan energi. Menurut Rachmat, pengembangan sistem energi perlu memperhitungkan sumber daya yang tersedia, infrastruktur yang telah dibangun, serta pola konsumsi listrik masyarakat.

Ia mencontohkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. Penambahan kapasitas pembangkit surya perlu diikuti kesiapan jaringan dan penyesuaian pola konsumsi agar produksi listrik pada siang hari dapat terserap.

“Kalau kita memiliki 100 gigawatt listrik dari tenaga surya, kita harus memikirkan apakah kita memiliki beban untuk menyerapnya dan apakah ada penggunaan energi yang bisa dialihkan ke siang hari,” ujar Rachmat.

Menurut Rachmat, fleksibilitas tersebut juga berkaitan dengan skema pembiayaan proyek energi. DDMF memiliki mandat untuk mendukung proyek pembangunan jangka panjang dan dapat memberikan pembiayaan dengan karakter yang lebih fleksibel. Lembaga pembiayaan pembangunan, lanjutnya, dapat berperan dalam menurunkan risiko proyek sekaligus membantu mempersiapkannya agar lebih mudah menarik investasi swasta.

Pengembangan sistem tersebut dapat berjalan beriringan dengan peluang Indonesia di sektor energi surya. Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar, sekaligus peluang membangun ekosistem industri hijau. Pengembangan tersebut mencakup rantai industri yang berkaitan dengan teknologi energi bersih, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Dengan demikian, peningkatan kebutuhan listrik tidak hanya menjadi tantangan penyediaan energi, tetapi juga dapat berkaitan dengan agenda industrialisasi dan pengembangan industri hijau di dalam negeri. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |