Warga menjemur di pinggir sumur tadah hujan yang menyusut akibat kemarau di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/8/2026).(Antara)
KEKERINGAN dan krisis air bersih di Jawa Barat terus meluas. Sampai pekan ini, dari total 27 kabupaten dan kota, 26 di antaranya sudah mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
"Kekeringan dan krisis air bersih sudah melanda 189 desa dan kelurahan di 440 kecamatan. Total warga terdampak sudah mencapai 588.534 jiwa dari 181.404 kepala keluarga," ungkap Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, Selasa (25/8).
Upaya membantu warga terus dilakukan BPBD dan dibantu instansi lain. Sampai saat ini sudah 13.001.400 liter air bersih didistribusikan ke warga yang terdampak.
BPBD tidak bergerak sendiri. Mereka telah mendistribusikan 7.886.700 liter air bersih.
Bantuan juga datang dari sejumlah lembaga. PMI menggelontorkan 1,8 juta liter air bersih, PDAM 2,2 juta liter, Polres 8.000 liter, BBWS 130 ribu liter, Baznas 116 ribu liter, Kodim 4.000 liter, komunitas 240 ribu liter dan dunia usaha 240 ribu liter.
Kabupaten Bekasi menjadi daerah dengan bantuan air bersih terbesar, yakni sebanyak 6,5 juta liter, menyusul Kabupaten Bogor 2 juta liter dan Kabupaten Karawang 710 ribu liter.
Sementara jumlah warga terdampak paling besar ada di Kabupaten Bogor sebanyak 200 ribu jiwa lebih, lebih banyak dari Kabupaten Bekasi yang sebanyak 72 ribu jiwa, dan Kabupaten Tasikmalaya 46 ribu jiwa.
"Musim kemarau masih akan panjang. Kami mengimbau warga bisa berhemat air dengan lebih baik. BPBD akan berusaha membantu warga yang mengalami krisis air bersih," tambah Hadi. (SG/E-4)


















































