Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Subang, dampak kekeringan telah meluas ke sedikitnya 45 desa di 15 kecamatan. Total luas lahan persawahan yang mengalami kekeringan di seluruh wilayah Subang kini mencapai 1.348 hektare.(MI/Reza)
DAMPAK musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di Kampung Ciistal, Desa Cimayasari, Kecamatan Cipeundeuy, sejumlah petani terpaksa melakukan panen muda terhadap tanaman padi mereka guna menghindari kerugian total akibat krisis air yang kian parah.
Kondisi ini dipicu oleh status lahan pertanian di wilayah tersebut yang merupakan sawah tadah hujan. Tanpa adanya sistem irigasi permanen, para petani sepenuhnya bergantung pada curah hujan yang kini tidak kunjung turun selama musim kemarau.
Suhada, salah seorang petani setempat, mengungkapkan bahwa langkah panen dini diambil karena tanaman padi mulai mengering dan terancam mati. "Padi yang sudah kekeringan dan terancam mati karena tidak ada pasokan air terpaksa dipanen untuk mengurangi jumlah kerugian yang lebih besar," ujarnya, Selasa (28/7).
Menurut Suhada, ketiadaan akses irigasi penunjang menjadi masalah menahun di wilayahnya. Meski para petani telah berulang kali mengusulkan pembangunan saluran pengairan kepada Pemerintah Kabupaten Subang, hingga saat ini belum ada realisasi atau tanggapan serius dari pihak terkait.
"Sawah tadah hujan ini mah, enggak ada saluran air. Jadi cuma mengandalkan air hujan. Sudah usul minta dibuatkan saluran irigasi tapi belum ada tanggapan," keluh Suhada.
Keputusan memanen dini ini berdampak langsung pada penurunan drastis hasil produksi dan pendapatan petani. Dalam kondisi cuaca normal dengan pasokan air cukup, lahan milik Suhada mampu menghasilkan 2 hingga 3 ton padi. Namun, akibat kekeringan, hasil panen kali ini merosot tajam dan menyebabkan kerugian finansial.
Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Subang, dampak kekeringan telah meluas ke sedikitnya 45 desa di 15 kecamatan. Total luas lahan persawahan yang mengalami kekeringan di seluruh wilayah Subang kini mencapai 1.348 hektare.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi para petani di Cipeundeuy. Mereka sangat berharap pemerintah segera memberikan solusi jangka panjang, terutama pembangunan infrastruktur pengairan agar lahan mereka tidak terus bergantung pada faktor cuaca yang tidak menentu. (RZ/I-1)


















































