Area pertanian mengalami kekeringan di Kabupaten Parigi Moutong.(Dok. MI/M Taufan SP Bustan)
KEKERINGAN melanda sembilan desa di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Bencana ini mengancam setidaknya 1.400 hektar lahan pertanian dan perkebunan warga.
Hujan tidak turun di wilayah tersebut sejak pertengahan Juni 2026. Kondisi ini memicu penurunan debit air secara drastis hingga Jumat (21/8).
Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengonfirmasi kejadian tersebut. Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini.
"Debit sumber air utama di Desa Kayu Agung bahkan tinggal 25 persen dari kondisi normal. Pasokan air warga menjadi sangat terbatas," ujar Asbudianto.
Lahan sawah dan perkebunan terluas yang terdampak berada di kawasan Kotaraya, Desa Ogotion, Desa Anutapura, dan Desa Ambesia Barat. Warga mengkhawatirkan ancaman gagal panen jika hujan tidak kunjung turun.
Selain merusak lahan pertanian, dua Kepala Keluarga (KK) di Desa Kayu Agung kini membutuhkan pasokan air bersih secara mendesak. Tim BPBD Sulteng bersama aparat desa setempat langsung bergerak ke lokasi. Petugas melakukan kaji cepat dan mendata kebutuhan warga di lapangan.
"Saat ini warga membutuhkan bantuan mesin pompa air (alkon), pembuatan sumur bor, serta pasokan air bersih," tambah Asbudianto.
BPBD mengimbau warga untuk menghemat penggunaan air. Petugas terus memantau perkembangan situasi di lokasi kekeringan. (H-3)


















































