Kemendiktisaintek Minta Prodi Dipilah Sesuai Industri, Pemerhati: Jurusan Filsafat Terancam Punah

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengkritik keras kecenderungan pendidikan tinggi yang dinilai semakin berorientasi pada kebutuhan industri semata.

Pengamat pendidikan dari JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa perguruan tinggi sejatinya merupakan lembaga pendidikan, bukan balai latihan kerja (BLK).

“Perguruan tinggi itu lembaga pendidikan, bukan balai latihan kerja (BLK). Tugas utama kampus adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan sekadar memproduksi sekrup-sekrup untuk mesin industri,” kata Ubaid saat dihubungi Republika, Senin (27/4).

Pernyataan JPPI itu sekaligus merespons dorongan Kemendiktisaintek untuk memilah dan menghapus prodi-prodi di kampus yang tak sesuai dengan industri tenaga kerja.  

Ia mengingatkan, jika seluruh program studi diukur semata dari kebutuhan pasar, maka bidang ilmu murni, humaniora, hingga filsafat berpotensi terpinggirkan bahkan punah. Padahal, menurutnya, disiplin ilmu tersebut merupakan fondasi penting bagi peradaban.

“Jika semua prodi diukur dengan penguasa pasar, maka ilmu-ilmu murni, humaniora, dan filsafat akan punah, padahal itu adalah fondasi peradaban,” katanya.

Lebih lanjut, Ubaid menilai pendekatan pendidikan tinggi yang terlalu mengikuti kebutuhan industri justru berisiko membuat Indonesia tertinggal. Ia menekankan bahwa dunia industri bersifat dinamis dan berubah dengan cepat.

Menurutnya, perguruan tinggi seharusnya berada di garis depan dalam menciptakan inovasi dan peluang baru, bukan sekadar menjadi pengikut yang bergantung pada fluktuasi pasar.

“Industri itu dinamis dan cepat berubah. Apa yang dibutuhkan industri hari ini, belum tentu relevan lima tahun lagi. Jika kampus hanya mengekor pada keinginan pasar saat ini, kita akan selalu tertinggal. Pendidikan tinggi seharusnya berada di depan industri, menjadi pusat inovasi yang menciptakan peluang baru, bukan sekadar menjadi pengikut (follower) yang nasibnya ditentukan oleh fluktuasi pasar,” katanya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |