REPUBLIKA.CO.ID, KUALA TANJUNG — Warga Desa Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, mengolah sekitar 1 hingga 2 ton sampah setiap hari melalui program Bank Sampah Berseri yang berbasis pengolahan maggot Black Soldier Fly. Dari aktivitas tersebut, limbah rumah tangga hingga katering perusahaan diubah menjadi berbagai produk bernilai jual seperti pakan ternak, furnitur, dan kertas daur ulang.
Program ini digerakkan oleh Didi Saputra (41), yang akrab disapa Untung, bersama kelompok Sari Larva Berdaya (SLB) yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah Berseri pada 2024. Sejak 2021, mereka mulai mengembangkan pengolahan sampah organik berbasis maggot sebagai solusi pengurangan limbah sekaligus sumber ekonomi baru di desa.
Hasil pengolahan tidak hanya berhenti pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menciptakan produk ekonomi baru. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan ayam, bebek, dan ikan, sementara limbah kayu palet diolah menjadi meja dan kursi. Adapun limbah kertas serta pelepah pisang diubah menjadi kertas daur ulang dan paper bag.
“Awalnya kami belajar mengelola sampah dengan maggot. Lama-lama kami sadar ini bukan cuma soal kebersihan, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan,” kata Didi, dikutip Senin (27/4/2026).
Kegiatan tersebut turut membuka lapangan kerja baru bagi warga desa. Saat ini tercatat 17 orang terlibat aktif dalam pengelolaan sampah, termasuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan anak putus sekolah.
Didi menyebut keterlibatan warga tidak dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang pendidikan. Sejumlah penyandang disabilitas dilibatkan dalam proses pemilahan sampah hingga produksi barang daur ulang.
“Ada yang tuna netra, ada juga yang punya keterbatasan lain, tapi mereka tetap bisa bekerja, seperti memilah sampah atau membuat produk daur ulang,” ujarnya.
Di sisi lain, program ini juga menyentuh aspek pendidikan. Anak-anak putus sekolah dibantu untuk mengikuti ujian Paket B dan C agar dapat kembali memiliki ijazah formal.
Bank Sampah Berseri juga menerapkan sistem tabungan berbasis sampah anorganik seperti plastik dan kertas. Warga dapat menukarkannya menjadi saldo yang bisa dicairkan dalam bentuk sembako menjelang hari besar, dengan harga sekitar 30 persen lebih murah dari pasar.
Program ini mendapat dukungan dari PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sebagai bagian dari MIND ID melalui pelatihan serta penyediaan sarana pengelolaan sampah agar dapat berjalan lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dukungan tersebut juga menjadi bagian dari inovasi sosial perusahaan yang berkontribusi pada capaian penghargaan PROPER Emas di sektor lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, Didi berharap pengelolaan sampah di desanya dapat diperluas dengan dukungan armada pengangkut agar jangkauan layanan semakin luas. Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat peran desa dalam ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

2 hours ago
3
















































