Kemenlu Resmikan Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia

2 weeks ago 9
Kemenlu Resmikan Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Ina Hagniningtyas Krisnamurthi meresmikan Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia.(Dok Pusat Studi ASEAN di Indonesia)

Dunia saat ini menghadapi persaingan geopolitik yang semakin tajam, meningkatnya penggunaan kekuatan militer, serta berbagai ancaman baru seperti serangan siber dan gangguan rantai pasok yang dapat memengaruhi stabilitas global. Dalam kondisi tersebut, Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) atau Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pencegahan konflik, tetapi juga sebagai landasan kerja sama di antara negara-negara pihak.

"Keberadaan norma dan mekanisme saja tidak cukup. Tantangan utamanya adalah bagaimana instrumen yang telah tersedia dapat digunakan secara lebih efektif dan diterjemahkan menjadi kerja sama yang nyata. Sebuah tanda tangan memiliki nilai ketika diterjemahkan menjadi tindakan nyata," kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, dikutip Senin (31/8).

"Ujian sesungguhnya adalah apakah para pihak dapat menahan diri dan menyelesaikan perbedaan secara damai, menegakkan hukum internasional, serta menerjemahkan kerja sama yang efektif menjadi tindakan konkret," ujar Ina dalam sambutannya pada ASEAN-ID Academic Conference on the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) bertema The 50 Year Journey of the TAC in ASEAN and Strengthening ASEAN Norms to Achieve the ASEAN Community Vision 2045. Konferensi berlangsung di Auditorium Charles Himawan, President University, Cikarang, Jawa Barat, dalam rangka memperingati 50 tahun penandatanganan TAC.

Ina mengingatkan, TAC justru semakin kuat di tengah lingkungan internasional yang semakin kompleks. Konferensi membahas perjalanan TAC selama lima dekade serta relevansi prinsip-prinsipnya dalam memperkuat norma ASEAN dan menghadapi berbagai tantangan kawasan menuju ASEAN Community Vision 2045.

Konferensi dihadiri sejumlah duta besar dan perwakilan negara-negara ASEAN serta negara mitra ASEAN di Jakarta, perwakilan Sekretariat ASEAN, Pusat Studi ASEAN dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, akademisi, dan para peneliti. Kehadiran para tokoh dan akademisi tersebut menjadikan konferensi sebagai ruang untuk bertukar perspektif sekaligus memperkuat jejaring dalam pengembangan kajian dan kerja sama ASEAN.

"TAC ditandatangani di Bali pada 24 Februari 1976, ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi berbagai tekanan, persaingan ideologi, dan warisan konflik. Lima puluh tahun kemudian, prinsip-prinsip yang terkandung dalam TAC, termasuk penghormatan terhadap integritas teritorial, non-intervensi, serta penolakan terhadap ancaman atau penggunaan kekuatan, tetap menjadi bagian penting dalam hubungan antarnegara di kawasan," kata Ina.

Rektor President University Handa Abidin menekankan pentingnya pendidikan dalam membangun hubungan antarmasyarakat ASEAN.

"Bagi kami, kerja sama ASEAN tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga dengan bagaimana masyarakat di kawasan dapat saling mengenal dan memahami. Selama hampir 25 tahun, President University telah menjadi bagian dari upaya tersebut dengan menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara ASEAN ke lingkungan kampus," kata Handa.

Saat ini, mahasiswa dari delapan dari 11 negara anggota ASEAN telah atau sedang menempuh pendidikan di President University. Ke depan, President University juga terus membuka kesempatan bagi mahasiswa dari Kamboja, Laos, dan Singapura untuk menjadi bagian dari komunitas akademiknya.

"ASEAN hanya dapat terus berkembang dan tetap bersatu jika masyarakatnya saling memahami. Pendidikan merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan hal tersebut," ujar Handa.

Pada acara itu juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara President University dan Kementerian Luar Negeri dalam rangka kerja sama Pusat Studi ASEAN sebagai Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia.

"Pusat Studi ASEAN akan semakin memperkuat perannya dalam pengembangan kajian ASEAN dan Asia Tenggara, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi akademik mengenai isu-isu regional," kata Handa.

Konferensi dihadiri oleh lebih dari 30 tamu internasional serta perwakilan dari lebih dari 10 Pusat Studi ASEAN di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. TAC ditandatangani di Bali pada 24 Februari 1976 sebagai fondasi arsitektur politik dan keamanan ASEAN selama lima dekade. (X-6)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |