Kementan Percepat Adopsi Teknologi PM-AAS di Kabupaten Sukabumi

4 hours ago 4
Kementan Percepat Adopsi Teknologi PM-AAS di Kabupaten Sukabumi Kementan melaksanakan bimtek dan demplot kepada petani dan penyuluh di Kabupaten Sukabumi untuk mempercepat adopsi PM-AAS.(Dok.Kementan)

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan)  mempercepat adopsi Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS). Upayanya dilaksanakan melalui bimbingan teknis (bimtek) dan demonstrasi plot (demplot) kepada penyuluh dan petani yang dilaksanakan di Poktan Mulya Tani I Desa Citepus Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (23/7).

Program tersebut menjadi tahap awal implementasi PM-AAS di Kabupaten Sukabumi sepanjang Juli 2026 dengan fokus membekali penyuluh dan petani mengadopsi dan implementasi adopsi teknologi budi daya presisi sekaligus memastikan seluruh tahapan budidaya dijalankan sesuai standar teknis agar mampu menghasilkan produktivitas optimal.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan PM-AAS merupakan wujud nyata transformasi sistem budi daya modern yang tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga mampu melipatgandakan kesejahteraan petani.

"PM-AAS merupakan salah satu bentuk nyata penerapan sistem budidaya modern yang mampu meningkatkan pendapatan petani hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan metode budidaya konvensional. Akselerasi swasembada pangan tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan petani memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar melalui transformasi sistem budidaya," Mentan.

Menurutnya, pola pertanian tradisional harus segera ditinggalkan dan digantikan dengan sistem yang lebih modern, efisien, dan berbasis mekanisasi.

“Kita harus ubah total cara bertani kita. Jangan lagi bertani secara manual yang melelahkan dan berbiaya tinggi. Dengan PM-AAS, kita terapkan mekanisasi penuh dan tanam benih langsung (tabela) agar biaya produksi turun hingga 50%dan produktivitas melompat dari rata-rata 5 ton menjadi 8 hingga 10 ton per hektar. Teknologi ini harus dikuasai langsung oleh petani di daerah,” tegasnya.

PARAMETER TEKNIS
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementan sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan Kabupaten Sukabumi, Leli Nuryati, mengatakan implementasi PM-AAS tidak hanya berorientasi pada perluasan areal penerapan, tetapi memastikan seluruh parameter teknis dipenuhi sejak awal agar produktivitas benar-benar meningkat.

“Kami bersama penyuluh dan petani bergerak cepat mengawal langsung implementasi PM-AAS di Kabupaten Sukabumi melalui Bimbingan Teknis dan Demplot. Tahap awal ini sangat penting untuk memastikan pemahaman petani dan penyuluh benar-benar sesuai dengan standar panduan PM-AAS sebelum diterapkan secara luas,” kata Leli.

Ia menjelaskan, koordinasi dan Bimtek selama Juli difokuskan untuk membangun pemahaman teknis secara menyeluruh sekaligus mengevaluasi kesiapan lahan yang akan dijadikan lokasi penerapan PM-AAS.

“Kita harus memastikan kondisi lahan yang disiapkan untuk PM-AAS ini benar-benar sesuai dengan parameter yang diharapkan dalam juknis, bukan sekadar mengikuti aturan secara kaku, tetapi memastikan syarat idealnya terpenuhi. Jangan hanya mengejar hamparan lahan yang luas, tetapi hasil panennya justru tidak optimal,” ujarnya.

Menurut Leli, keberhasilan PM-AAS justru ditentukan kedisiplinan memenuhi parameter dasar sebelum proses tanam dilakukan. “Hal paling utama dan krusial yang wajib diperiksa sebelum memulai PM-AAS adalah tingkat pH tanah. Setelah derajat keasaman tanah teridentifikasi, barulah kita dapat melakukan tindakan selanjutnya untuk memastikan tingkat pH tanah  benar-benar ideal sekitar 6.0-7.0 agar padi dapat tumbuh dengan baik,” jelasnya.

Secara teknis, kata Leli, PM-AAS mengombinasikan berbagai inovasi budidaya modern mulai dari penyiapan lahan sesuai parameter, pengondisian tanah macak-macak, penggunaan varietas unggul tahan rebah, hingga sistem tanam benih langsung (tabela) dengan populasi rapat. Sistem ini juga menerapkan pengelolaan air melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD) serta pemupukan presisi berbasis kebutuhan tanaman.

“Melalui pendekatan tersebut, populasi tanaman dapat ditingkatkan hingga 800 ribu sampai 1,2 juta rumpun per hektare, sekaligus menekan penggunaan air, mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi biaya produksi,” katanya.

DRUM SEEDER
Para penyuluh dari Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi secara kreatif membuat drum seeder secara swadaya untuk digunakan oleh petani. Drum seeder tersebut digunakan untuk demplot  langsung di sawah menanam padi. Sehingga para peserta memperoleh demonstrasi langsung teknik penanaman presisi menggunakan metode PM-AAS.

Selain itu, para penyuluh juga diberikan bimtek merakit alat tanam drum seeder secara mandiri menggunakan bahan-bahan lokal sehingga proses alih teknologi dapat berlangsung lebih cepat, murah, dan tidak bergantung pada peralatan impor.

Untuk memastikan implementasi PM-AAS berjalan secara menyeluruh, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan turut memberikan sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) Pupuk Bersubsidi terbaru sekaligus mengevaluasi kelancaran distribusinya di Kabupaten Sukabumi agar kebutuhan sarana produksi petani tetap terjamin selama proses budidaya. Pun Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pertanian juga menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi PM-AAS.

“Program ini tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi modern, tetapi juga oleh kepatuhan seluruh pelaksana terhadap panduan teknis sehingga target peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dapat tercapai secara optimal,” jelas Leli.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengapresiasi kegiatan Bimtek PM-AAS di Kab. Sukabumi agar sesuai dengan juknis dan dapat mendongkrak produksi nasional. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |