ilustrasi(Magnific)
KEHADIRAN teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini kini telah menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat modern, mulai dari membantu pekerjaan kantor hingga mencari ide resep masakan. Kendati menawarkan banyak kemudahan, para ahli kesehatan mental mulai menyuarakan peringatan serius mengenai potensi dampak adiktif dari penggunaan model bahasa besar ini terhadap psikologis penggunanya.
Seorang konsultan psikiater di Inggris, Dr. David McLaughlan, membeberkan empat tanda utama ketika penggunaan AI mulai berubah menjadi kecanduan dan membahayakan kesehatan mental.
Empat Tanda AI Mulai Mengganggu Kondisi Psikologis
Berdasarkan pengamatan klinis para ahli, berikut adalah indikator bahwa seseorang mulai mengalami ketergantungan tidak sehat pada teknologi AI:
- Kehilangan Kendali Waktu: Pengguna berniat hanya menggunakan platform AI sebentar, namun justru menghabiskan waktu berjam-jam di luar rencana awal, mirip dengan karakteristik perilaku adiktif lainnya.
- Terjebak Siklus "Memancing Penderitaan" (Fishing for Misery): Menggunakan AI untuk mencari-cari konfirmasi atas kecemasan kesehatan atau kekhawatiran diri, yang justru memperburuk stres dan menjebak pengguna dalam siklus kecemasan berkepanjangan.
- Penarikan Diri Secara Sosial: Berkurangnya interaksi dengan keluarga dan teman akibat terlalu asyik berinteraksi dengan AI, yang memicu lingkaran setan berupa penurunan suasana hati dan rasa kesepian.
- Tetap Digunakan Meski Menyadari Dampak Buruk: Muncul kesadaran bahwa waktu di depan layar AI merusak kehidupan sosial dan mental, namun pengguna merasa tidak berdaya untuk berhenti.
Dr. McLaughlan mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan AI untuk melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis) ataupun meminta terapi psikologis, mengingat sistem AI bersifat umum dan tidak dirancang untuk menggantikan tenaga medis profesional. Jika penggunaan AI mulai mendatangkan kerugian secara psikologis, sosial, atau mengganggu fungsi hidup sehari-hari, segera cari bantuan dari ahli kesehatan mental manusia.


















































