Kenali Perbedaan Vape, Tembakau yang Dipanaskan, dan Rokok Konvensional

1 week ago 6
Kenali Perbedaan Vape, Tembakau yang Dipanaskan, dan Rokok Konvensional ilustrasi(Antara)

Produk tembakau alternatif kini semakin dikenal, terutama di kalangan konsumen perokok dewasa yang mempertimbangkan untuk beralih dari kebiasaan merokok. Meski demikian, berbagai anggapan keliru mengenai karakteristik dan cara kerja produk ini masih berkembang di masyarakat.

Padahal, produk tembakau alternatif mencakup sejumlah kategori dengan mekanisme yang berbeda, mulai dari produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektronik atau vape, hingga kantong nikotin. Lantas, mana yang termasuk mitos dan mana yang merupakan fakta? Berikut penjelasannya.

1. Mitos: Produk Tembakau Alternatif Bekerja dengan Cara yang Sama seperti Rokok

Fakta: Setiap produk memiliki mekanisme dan karakteristik yang berbeda.

Akademisi Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan bahwa karakteristik produk tembakau perlu dipahami berdasarkan mekanisme kerja masing-masing. Rokok konvensional menggunakan proses pembakaran tembakau yang menghasilkan asap serta berbagai senyawa hasil pembakaran.

Sementara itu, produk tembakau alternatif memiliki mekanisme yang berbeda, bergantung pada jenis produknya. “Perbedaan mendasar dapat dilihat dari proses yang digunakan. Pada rokok terjadi pembakaran tembakau, sementara produk tembakau alternatif tertentu menggunakan proses pemanasan atau mekanisme lain yang tidak sama dengan pembakaran,” ujar Khotib.

2. Mitos: Produk Tembakau Alternatif Sama dengan Rokok karena Menghasilkan Emisi

Fakta: Emisi dari produk tembakau alternatif tidak dapat disamakan dengan asap hasil pembakaran rokok.

Khotib memaparkan bahwa proses pembakaran pada rokok menghasilkan berbagai senyawa toksik dan karsinogenik akibat temperatur tinggi. Sebaliknya, produk tembakau alternatif yang menggunakan sistem pemanasan tidak melalui proses kimia yang sama dengan pembakaran.

Menurutnya, pemahaman mengenai perbedaan antara emisi dari proses pembakaran dan produk yang menggunakan pemanasan sangat penting agar masyarakat tidak menyamaratakan seluruh produk hanya karena sama-sama berkaitan dengan tembakau.

3. Mitos: Vape Menghasilkan Asap seperti Rokok

Fakta: Rokok elektronik menghasilkan aerosol dari pemanasan liquid, bukan asap pembakaran.

Pada rokok elektronik atau vape, uap yang dihasilkan berasal dari proses pemanasan liquid sehingga membentuk aerosol. Peneliti senior dari National Autonomous University of Mexico (UNAM), Roberto Sussman, menjelaskan bahwa partikel dalam uap vape berupa tetesan cairan yang terdiri atas propilen glikol, gliserin nabati, nikotin, dan air.

“Aerosol vape yang dihembuskan ini mudah menguap. Tetesannya dapat dengan mudah menguap dan gasnya menyebar dalam waktu sangat singkat, kurang dari satu menit,” ujarnya. Perbedaan mekanisme ini didukung oleh kajian Public Health England (PHE) tahun 2018 yang menyebutkan bahwa sistem pemanasan pada rokok elektronik berkaitan dengan paparan risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

4. Mitos: Konsumen Tidak Perlu Memahami Legalitas Produk

Fakta: Konsumen dewasa wajib memperhatikan asal-usul dan legalitas produk.

Ketua Umum Asosiasi Konsumen Vape Indonesia, Paido Siahaan, menekankan pentingnya edukasi mengenai produk legal dan ilegal. Produk ilegal berpotensi mengalami modifikasi atau penyalahgunaan yang membahayakan konsumen.

“Produsen, asosiasi, dan pemerintah perlu bersama-sama menyampaikan informasi yang sederhana, konsisten, dan berbasis fakta,” kata Paido. Ia menambahkan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam menghadirkan komunikasi publik dan pengawasan yang jelas untuk melindungi konsumen.

Dengan memahami perbedaan karakteristik, mekanisme kerja, serta legalitas setiap produk, konsumen perokok dewasa diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih utuh sebelum menentukan pilihan terkait produk yang digunakan. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |