Pekerja menata potongan tahu yang baru dicetak di industri rumahan di Desa Geuceu Kayee, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Aceh, Selasa (23/6/2026).(Antara/Akramul Muslim)
PERGERAKAN harga kedelai tidak serta-merta menjadi gambaran utuh mengenai kondisi industri tahu dan tempe di lapangan. Di tengah pemberitaan mengenai kenaikan harga kedelai di sejumlah daerah, kondisi harga perlu dilihat berdasarkan wilayah dan faktor yang memengaruhinya, karena harga di tingkat pengrajin saat ini masih berada dalam batas harga acuan yang ditetapkan pemerintah.
Bagi pengrajin, keberlangsungan produksi sehari-hari sangat ditentukan oleh dua hal yang saling berkaitan: harga bahan baku yang wajar dan pasokan yang tersedia secara konsisten. Keduanya menjadi penting agar pengrajin dapat menjaga produksi sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen. Kedelai merupakan bahan baku utama yang dibutuhkan secara rutin oleh pengrajin tahu dan tempe.
Karena itu, perubahan harga memang menjadi bagian dari perhitungan biaya produksi. Namun, kondisi harga di lapangan juga perlu dilihat secara lebih spesifik karena perbedaan wilayah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk biaya transportasi, distribusi, akses logistik, serta kondisi geografis dan situasi tertentu di masingmasing daerah.
Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengatakan bahwa dinamika harga kedelai merupakan bagian dari kondisi pasar yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk harga komoditas global, nilai tukar, biaya logistik, kondisi geopolitik dan perdagangan internasional. Namun, menurutnya, perhatian terhadap industri tahu dan tempe tidak seharusnya hanya diarahkan pada pergerakan harga.
"Dalam kondisi pasar yang dinamis, yang perlu dijaga bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan barang. Pengrajin membutuhkan kepastian bahwa kedelai tersedia ketika dibutuhkan, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dengan lebih baik," ujarnya.
Hal tersebut menjadi semakin relevan karena produksi tahu dan tempe berlangsung setiap hari dan membutuhkan pasokan bahan baku secara berkelanjutan. Pada September 2026, stok kedelai impor nasional berada di kisaran 475 ribu ton, yang dinilai masih mencukupi kebutuhan nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kedelai perlu melihat aspek harga dan ketersediaan pasokan secara bersamaan.
Akindo menilai keberlanjutan pasokan merupakan bagian penting dari stabilitas industri tahu dan tempe. Karena itu, perhatian terhadap rantai pasok perlu mencakup tidak hanya ketersediaan kedelai, tetapi juga kelancaran distribusi hingga ke wilayah pengrajin.
"Rantai pasok kedelai saling berkaitan. Yang perlu kita jaga adalah kelancaran distribusi dan ketersediaan barang, sehingga pengrajin memiliki kepastian untuk terus berproduksi dan kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi. Kami mendukung langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas pangan dan keberlangsungan industri pangan nasional. Dari sisi pelaku usaha, kontribusi yang dapat kami lakukan adalah memastikan pasokan tetap tersedia, distribusi berjalan dengan baik, dan kebutuhan industri dapat dipenuhi secara berkelanjutan," ujar Hidayat. (I-2)


















































