Ilustrasi kerak bumi(Dok. Science Daily)
PARA ahli geologi menemukan petunjuk baru. Di bawah Pegunungan Apennine, kerak bumi diduga sedang mengalami proses pengelupasan dan perlahan tenggelam ke dalam mantel Bumi. Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Stefano Tavani dari Universitas Florence.
Tim peneliti menggabungkan berbagai data, mulai dari aktivitas gempa bumi, pengukuran GPS, radar satelit, hingga pemetaan batas antara kerak dan mantel Bumi atau yang dikenal sebagai Moho. Demikian dilansir dari Science Alert, Minggu (13/9)
Pegunungan Apennine membentang sekitar 1.200 kilometer di sepanjang Semenanjung Italia. Selama jutaan tahun, pegunungan ini terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik yang saling bertabrakan dan menekan kerak bumi. Namun, kondisi di wilayah tersebut ternyata lebih rumit.
Di satu sisi, bagian depan Pegunungan Apennine masih mengalami tekanan. Di sisi lain, bagian dalam pegunungan justru mengalami peregangan. Kondisi tersebut menjadi teka-teki bagi para ahli geologi karena dua proses yang berlawanan itu terjadi dalam satu sistem pegunungan.
Penelitian terbaru mengusulkan bahwa salah satu penyebabnya ialah proses yang disebut "delaminasi". Sederhananya, lapisan bawah kerak dan bagian litosfer yang lebih padat terlepas dari lapisan di atasnya, kemudian tenggelam ke dalam mantel Bumi.
Proses tersebut tidak terjadi sekaligus di seluruh wilayah. Para peneliti memperkirakan pengelupasan berlangsung secara bertahap dan memiliki bagian depan atau "engsel" yang perlahan berpindah di bawah Italia menuju wilayah Adriatik.
Ibarat membuka ritsleting, bagian tertentu dari lapisan bawah Bumi terlebih dahulu terlepas, kemudian proses tersebut bergerak ke bagian berikutnya.
Petunjuk mengenai proses ini terlihat dari struktur Moho. Di sepanjang lebih dari 500 kilometer Pegunungan Apennine, peneliti menemukan pola yang menunjukkan adanya tumpang tindih antara batas kerak-mantel di sisi Laut Tyrrhenian dan sisi Laut Adriatik.
Aktivitas gempa juga memperkuat dugaan tersebut. Di bagian belakang zona pengelupasan, pola gempa lebih banyak menunjukkan kerak Bumi sedang mengalami tarikan. Sementara di bagian depan, gempa lebih banyak menunjukkan adanya tekanan atau kompresi.
Data GPS memberikan gambaran serupa. Para peneliti mengukur peregangan sekitar 4 milimeter per tahun di sepanjang sabuk pegunungan, sementara sebagian wilayah di bagian depannya mengalami penyusutan sekitar 2 milimeter per tahun.
Para peneliti menggambarkan kondisi tersebut seperti akordeon. Bagian dalam pegunungan dapat meregang, sementara bagian depannya pada saat yang sama mengalami pemendekan.
Menurut tim peneliti, pergerakan lempeng tektonik memang dapat menjelaskan kondisi tersebut pada tahap awal pembentukan Pegunungan Apennine. Namun, mekanisme itu dinilai belum cukup untuk menjelaskan deformasi yang masih berlangsung hingga saat ini.
Delaminasi diduga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ketika lapisan bawah yang lebih padat terlepas dan tenggelam ke dalam mantel, beban yang sebelumnya menarik kerak Bumi ke bawah ikut berkurang.
Kerak yang tersisa kemudian dapat bergerak naik atau mengalami pemulihan karena material mantel yang lebih ringan menggantikan lapisan yang telah tenggelam. Proses ini dapat menyebabkan peregangan di belakang zona pengelupasan, sementara bagian di depannya masih mengalami tekanan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa gambaran tersebut masih merupakan model yang disederhanakan. Struktur lempeng dan mantel di bawah Pegunungan Apennine masih memiliki sejumlah pertanyaan yang perlu dikaji melalui model geologi yang lebih kompleks.
Temuan di Italia ini setidaknya memberikan petunjuk baru mengenai proses di dalam Bumi dapat membentuk perubahan di permukaannya. Bagi para ahli geologi, Pegunungan Apennine menjadi salah satu contoh langka karena perubahan struktur di bawahnya dapat dilacak melalui kombinasi data gempa, GPS, dan pengamatan satelit. (H-4)


















































