Kesiapan Pertolongan Pertama Kunci Keselamatan Lansia dalam Kondisi Darurat

1 week ago 25
Kesiapan Pertolongan Pertama Kunci Keselamatan Lansia dalam Kondisi Darurat Seminar Sigap Lansia: Edukasi Nasional Penanganan Kegawatan Sehari-hari pada Lansia(FKUI)

Kesiapan memberikan pertolongan pertama menjadi salah satu faktor krusial dalam menyelamatkan lanjut usia (lansia) yang mengalami kondisi darurat medis. Kondisi seperti stroke, sesak napas, jatuh, lemas, hingga henti jantung memerlukan penanganan cepat karena menit-menit pertama sebelum bantuan medis tiba sangat menentukan prognosis atau kondisi akhir pasien. Namun, realitanya keluarga maupun masyarakat yang berada paling dekat dengan lansia sering kali belum memiliki pengetahuan tentang tindakan yang tepat.

Merespons kebutuhan tersebut, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) berkolaborasi dengan Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) menyelenggarakan program Sigap Lansia: Edukasi Nasional Penanganan Kegawatan Sehari-hari pada Lansia. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring dan daring dengan menyasar anggota IWSS sebagai garda terdekat di lingkungan keluarga.

Urgensi Pengetahuan Kegawatdaruratan

Ketua Panitia Sigap Lansia, Dr. dr. Aida Rosita Tantri, Sp.An-TI, Subsp.An.R.(K), menekankan bahwa masyarakat harus memiliki kesiapsiagaan dalam memberikan pertolongan awal, baik di rumah maupun lingkungan sekitar.

“Penolong pertama perlu mengetahui tanda bahaya dan tindakan awal yang tepat sebelum bantuan medis datang,” ujar Aida dalam keterangan resminya.

Urgensi ini didorong oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 yang menunjukkan jumlah lansia di Indonesia telah mencapai sekitar 12 persen dari total populasi, atau hampir 29 juta jiwa. Angka ini diprediksi akan terus melonjak hingga mendekati 20 persen pada tahun 2045 mendatang.

Risiko Kesehatan pada Lansia

Seiring bertambahnya usia, terjadi proses penuaan yang menyebabkan penurunan cadangan fungsi organ. Hal ini, ditambah dengan tingginya prevalensi penyakit kronis, membuat lansia jauh lebih rentan terhadap berbagai risiko kegawatdaruratan, di antaranya:

  • Stroke
  • Sesak napas
  • Kelemahan mendadak atau lemas
  • Jatuh yang berisiko fraktur
  • Penurunan kesadaran
  • Henti jantung

Melalui program Sigap Lansia, peserta dibekali kemampuan untuk mengenali tanda bahaya secara dini. Penanganan yang cepat dan benar diharapkan mampu mencegah perburukan kondisi pasien serta menekan risiko kecacatan permanen hingga kematian.

Pelatihan Keterampilan dan Simulasi

Edukasi ini tidak hanya bersifat teoretis. Peserta mengikuti diskusi interaktif dan pelatihan keterampilan langsung. Pada sesi luring, peserta dibagi ke dalam beberapa pos pelatihan untuk mensimulasikan penanganan kasus spesifik.

Materi Pelatihan Sigap Lansia:

  • Simulasi penanganan stroke, lemas, dan sesak napas.
  • Praktik Bantuan Hidup Dasar (BHD).
  • Teknik balut bidai untuk cedera fisik.
  • Prosedur transportasi korban yang aman.

Peserta juga diberikan kesempatan mempraktikkan tindakan secara mandiri dengan pendampingan instruktur ahli. Sementara itu, peserta daring terlibat melalui diskusi dan menyaksikan simulasi secara visual. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, panitia menyelenggarakan kuis sebelum dan sesudah acara guna memantau perubahan pengetahuan serta persepsi peserta mengenai bantuan hidup dasar pada lansia.

Kolaborasi antara FKUI-RSCM dan IWSS ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, sehingga setiap individu mampu mengambil langkah penyelamatan yang tepat sebelum tenaga medis profesional tiba di lokasi. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |