Ketika Kebaikan Menjadi Infrastruktur, Gempa Flores dan Modal Sosial yang Menopang Kita

1 month ago 30
Ketika Kebaikan Menjadi Infrastruktur, Gempa Flores dan Modal Sosial yang Menopang Kita Uskup Ruteng Flores NTT, Mgr Siprianus Hormat(Dok.pribadi)

GEMPA meruntuhkan banyak hal dalam hitungan detik. Rumah, tempat ibadah, sekolah, bahkan rasa aman mendadak menjadi rapuh. Namun di tengah kerusakan akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu, saya menyaksikan sesuatu yang justru tumbuh cepat: orang-orang mulai mencari satu sama lain.

Telepon yang mula-mula membawa kabar buruk berubah fungsi. Ada yang mengirim makanan, mendistribusikan obat, atau menjadi relawan. Pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga kemanusiaan, Gereja, dan warga bergerak dari simpul masing-masing. Di tengah infrastruktur fisik yang rusak, infrastruktur lain sedang bekerja: jaringan kebaikan.

Saya sedang tidak berada di Ruteng saat gempa terjadi. Kabar pertama justru mengenai kamar saya: plafon berjatuhan dan sebuah bingkai besar roboh ke arah tempat tidur. Seandainya pagi itu saya berada di sana, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.

Namun bencana sungguh memperoleh wajahnya ketika kabar berikut datang: orang terluka, keluarga mengungsi, korban jiwa ditemukan. Pikiran saya berpindah kepada mereka yang malam itu tidak mempunyai kamar untuk dimasuki.

Jaringan yang tak terlihat

Kita biasanya membayangkan ketangguhan melalui bangunan tahan gempa, jalan, listrik, dan rumah sakit. Namun masyarakat juga mempunyai infrastruktur yang tidak dibangun dari beton: kepercayaan, kebiasaan saling menolong, serta kemampuan menghubungkan kebutuhan dengan sumber daya.

Ilmu sosial menyebut sebagian kekuatan itu modal sosial. Wajahnya sederhana: tetangga memastikan tetangganya sudah makan, kendaraan dipinjamkan, dan relawan menembus tempat sulit. Penelitian tentang bencana memperkuat kesan itu. Pada gempa Kobe 1995, studi resmi mencatat sekitar 80 persen orang yang dikeluarkan dari reruntuhan diselamatkan warga sipil, bukan regu penyelamat profesional. Daniel P. Aldrich, dalam Building Resilience (2012), menemukan bahwa kecepatan pemulihan antarwilayah tidak ditentukan oleh besarnya kerusakan ataupun besarnya bantuan, melainkan oleh rapatnya jaringan sosial sebelum bencana datang. Ketangguhan sesungguhnya ditabung jauh sebelum tanah berguncang.

Saya bahkan mendengar orang yang sesungguhnya korban masih berjuang memapah tetangganya menuju tempat yang aman. Di situlah saya belajar bahwa kasih bukanlah kata benda yang indah. Dalam bencana, ia selalu ingin menjadi kata kerja: mengangkat, mengantar, mengobati, mendengarkan, menghubungkan, atau menemani.

Tetapi niat baik saja tentu tidak cukup. Kebaikan memerlukan organisasi. Bantuan harus mengetahui alamatnya, kebutuhan dipetakan, dan sumber daya dipertemukan dengan yang paling membutuhkan.

Kepemimpinan sebagai kehadiran

Pengalaman itu mengoreksi cara saya memahami kepemimpinan. Pemimpin harus memutuskan dan menghubungkan kebutuhan dengan sumber daya. Ia bukan pahlawan tunggal, melainkan penyambung simpul.

Namun ada sesuatu yang tidak seluruhnya dapat didelegasikan: kehadiran. Setelah koordinasi awal berjalan, saya pergi menemui para korban. Ada saat ketika kehadiran tidak dapat digantikan telepon; ada saat ketika orang yang menderita tidak membutuhkan pidato, melainkan kesediaan seorang pemimpin untuk berada di sana.

Sesudah beberapa kunjungan, saya menerima pesan warga yang berterima kasih karena kami datang. Saya membacanya dengan haru sekaligus malu. Saya tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Saya hanya datang.

Kita hidup pada zaman ketika kehadiran mudah diganti pesan simpati. Semua itu berguna. Namun duka manusia tidak seluruhnya dapat dijangkau melalui layar gawai. Kehadiran bukan terutama soal terlihat oleh korban, melainkan kesediaan melihat korban. Dari sana pemimpin membawa pulang yang tak selalu ada dalam tabel: kelelahan, kecemasan, kebutuhan yang terlewat, juga daya tahan manusia di balik angka.

Dari keselamatan menuju tanggung jawab

Pikiran saya beberapa kali kembali ke kamar sendiri. Saya tidak berani mengatakan bahwa Tuhan menyelamatkan saya sementara orang lain tidak. Misteri penderitaan terlalu besar untuk disederhanakan. Saya tidak mempunyai jawaban mengapa seseorang selamat sementara yang lain tidak pernah keluar dari reruntuhan.  

Yang saya punya ialah tanggung jawab terhadap kenyataan bahwa saya masih hidup. Pertanyaannya berubah: bukan lagi, "Mengapa saya selamat?", melainkan, "Untuk apa hidup yang masih diberikan kepada saya ini?"

Bagi saya, keselamatan bukan privilese. Ia menjadi tanggung jawab. Dan pertanyaan itu berlaku bagi siapa saja: setiap orang mempunyai sesuatu — keahlian, waktu, kewenangan, atau dua tangan yang bisa bekerja — dan semuanya memperoleh makna sosial ketika menjadi jalan bagi hidup orang lain.

Ajaran sosial Gereja sejak lama menolak membaca solidaritas sebagai perasaan. Dalam Sollicitudo Rei Socialis, Yohanes Paulus II menyebutnya bukan rasa iba yang samar, melainkan kehendak yang teguh dan tekun untuk mengusahakan kesejahteraan umum — sebab kita semua bertanggung jawab atas semua.

Ketika ditahbiskan menjadi uskup, saya memilih motto Omnia in Caritate: melakukan segala sesuatu dalam kasih. Saya menemukannya jauh melampaui batas Gereja: pada relawan, tenaga kesehatan, pemerintah, TNI-Polri, dan tetangga. Bencana tidak menanyakan agama seseorang tatkala ia membutuhkan air. Kebaikan pun semestinya tidak menanyakan identitas sebelum mengulurkan tangan.

Setelah kamera pergi

Masa pemulihan lebih panjang daripada masa ketika bencana menjadi berita utama. Rumah dibangun kembali, trauma didampingi, mata pencaharian dihidupkan, dan jarak dari pusat kota tak boleh menentukan urutan siapa yang lebih dulu ditolong.

Di sinilah modal sosial menghadapi ujian berikutnya. Jaringan kebaikan tidak cukup spontan; ia harus dirawat dan dihubungkan dengan tata kelola yang baik. Solidaritas masyarakat tidak menggantikan tanggung jawab negara; keduanya harus saling menguatkan.

Gempa Flores mengajarkan bahwa ketangguhan tidak hanya terlihat pada bangunan yang mampu bertahan, melainkan juga pada seberapa cepat tangan terulur ketika bangunan itu gagal bertahan.

Flores membutuhkan rumah yang lebih kuat, sekolah yang lebih aman, dan mitigasi yang lebih baik. Namun kita juga membutuhkan sesuatu di luar spesifikasi konstruksi: manusia yang tidak tega membiarkan manusia lain menderita sendirian.

Hari-hari setelah gempa memperlihatkan jaringan itu ada. Tantangan kita ialah membuatnya tetap hidup ketika tanah berhenti berguncang, berita berpindah, dan kamera pergi. Sebab solidaritas tidak boleh berumur lebih pendek daripada penderitaan korban.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |