REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Aidul Fitriciada Azhari (Guru Besar Ilmu Hukum dan Kaprodi Hubungan Internasional FHIP Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Ketegangan di Timur Tengah saat ini telah melampaui batas perang proksi tradisional. Konfrontasi antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel kini berubah menjadi pertarungan strategi terbuka—bukan sekadar siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu bertahan.
Dalam membaca dinamika ini, sejarah Islam menghadirkan refleksi penting melalui Perang Khandaq. Ketika Madinah dikepung oleh koalisi besar (Ahzab), Nabi Muhammad SAW menerima usulan Salman Al Farisi untuk menggali parit (khandaq) berdasarkan strategi yang dilakukan oleh bangsa Persia, tempat Salman berasal. Strategi ini bukan sekadar taktik defensif, tetapi bentuk awal dari perang gesekan (the attrition war)—menghindari kehancuran cepat dengan cara menguras daya tahan musuh.
Pertahanan Mosaik
Dalam konteks modern, strategi Khandaq ini tampak serupa dalam strategi Iran—Persia modern. Sebagaimana tergambar dalam analisis geopolitik kontemporer, Iran mengadopsi pendekatan yang sangat mirip dengan logika Khandaq: menghindari konfrontasi langsung, sambil memperpanjang konflik.
Iran mengembangkan doktrin “pertahanan mosaik” (mosaic defense), yakni sistem pertahanan terdesentralisasi dengan unit-unit militer yang tetap beroperasi meskipun pusat komando terganggu. Ini adalah bentuk “parit modern”, yakni bukan lagi berupa tanah, tetapi jaringan terowongan, pangkalan tersembunyi, dan struktur komando yang tersebar.
Strategi ini menciptakan kedalaman strategi (strategic depth) yang membuat serangan cepat menjadi tidak efektif. Tidak ada satu titik pusat yang bisa dihancurkan untuk mengakhiri perang. Dengan demikian, lawan dipaksa masuk ke dalam konflik panjang yang melelahkan.
Cost Asymmetry
Lebih jauh, Iran memanfaatkan logika cost asymmetry berupa ketimpangan biaya perang. Drone dan rudal berbiaya rendah digunakan untuk memancing respons pertahanan yang jauh lebih mahal. Dalam praktiknya, ini berarti setiap serangan kecil dapat menghasilkan beban ekonomi besar bagi lawan.
Di sinilah perang gesekan mencapai bentuk modernnya: bukan hanya menguras militer, tetapi juga anggaran, legitimasi politik, dan ketahanan domestik. Strategi ini secara implisit menantang asumsi klasik kekuatan Barat, bahwa superioritas teknologi akan selalu menghasilkan kemenangan cepat.
Pandangan ini sejalan dengan analisis Lawrence Freedman dalam Strategy: A History (2013), yang menegaskan bahwa strategi sering gagal ketika menghadapi lawan yang tidak bermain dalam logika kemenangan cepat, tetapi dalam logika waktu dan ketahanan. Lebih tajam lagi, Andrew J. Bacevich dalam The Limits of Power (2008) menyebut bahwa Amerika Serikat terjebak dalam “ilusi dominasi” berupa keyakinan bahwa kekuatan militer dapat menyelesaikan konflik yang kompleks. Pengalaman panjang di Irak dan Afghanistan justru menunjukkan sebaliknya: kemenangan militer tidak otomatis menjadi kemenangan politik.
Dalam konteks Iran, ilusi ini kembali diuji. Koalisi AS-Israel mungkin unggul secara teknologi, tetapi Iran tidak bermain di medan yang sama. Ia memindahkan konflik ke ruang yang lebih luas, yakni ekonomi, psikologi, dan waktu.
Strategi ini diperluas melalui jaringan “Poros Perlawanan” berupa proksi regional yang membuka banyak front sekaligus. Dengan cara ini, konflik tidak lagi terpusat, melainkan tersebar. Lawan dipaksa membagi perhatian, sumber daya, dan energi secara simultan. Hasilnya adalah fragmentasi tekanan: tidak ada satu perang besar, tetapi banyak konflik kecil yang terus menggerus.
Ini mengingatkan pada perang Khandaq saat Nabi: pasukan Ahzab tidak kalah dalam satu pertempuran besar, tetapi runtuh oleh kelelahan, cuaca, dan logistik.
Apa yang terjadi hari ini pada dasarnya adalah war without center—perang tanpa pusat yang mengacu strategi yang terdesentralisasi. Tidak ada kemenangan cepat, tidak ada penyelesaian instan. Yang ada adalah proses panjang yang menguji ketahanan semua pihak.
Dalam situasi seperti ini, strategi pemenggalan (decapitation strike) sebagaimana dilakukan oleh koalisi AS dan Israel dengan membunuh Ayatollah Khamenei menjadi tidak berhasil. Strategi tersebut digunakan justru menunjukkan kegelisahan AS dan Israel yang berupaya mencari jalan pintas dalam konflik yang tidak memberi ruang bagi kemenangan cepat. Namun sejarah menunjukkan, strategi semacam itu jarang berhasil ketika struktur perlawanan sudah terdesentralisasi.
Ketahanan sebagai Kekuatan
Pada akhirnya, Perang Khandaq memberikan pelajaran yang tetap relevan lintas zaman, bahwa dalam kondisi ketimpangan kekuatan, bertahan dengan cerdas sering kali lebih efektif daripada menyerang secara terbuka. Alquran menggambarkan bahwa ujian berat justru menjadi ruang pembuktian keteguhan. Dalam konteks modern, ini berarti bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada teknologi atau senjata, tetapi pada kemampuan bertahan dalam tekanan panjang.
Hal ini sebagaimana diingatkan oleh Joseph S. Nye Jr., dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004), bahwa kekuatan tidak hanya bersifat militer, tetapi juga kemampuan memengaruhi dan bertahan.
Konflik Iran versus koalisi AS-Israel pada akhirnya menunjukkan satu hal mendasar, bahwa dominasi tidak selalu menghasilkan kemenangan. Dalam banyak kasus, justru dominasi menciptakan beban yang semakin berat untuk dipertahankan.
Dan di situlah Khandaq menemukan relevansinya Kembali, yakni sebagai simbol bahwa dalam perang gesekan, yang menentukan bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling panjang napasnya. Wallahu’alam bis shawab

7 hours ago
7

















































