Menteri Keuangan Suahasil Nazara(MI/USMAN ISKANDAR)
Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak menilai pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi momentum strategis untuk memperkuat kredibilitas fiskal, stabilitas pasar keuangan, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Menurut Amin, di tengah ketidakpastian ekonomi global, proses transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan harus memberikan jaminan bahwa arah kebijakan fiskal tetap terjaga dan konsisten.
"Pergantian menteri keuangan merupakan bagian dari kewenangan Presiden. Yang paling penting sekarang adalah memastikan transisi berjalan baik, kesinambungan kebijakan terjaga, dan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat,” ujar Amin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (15/9).
Rekam Jejak dan Pengalaman Suahasil Nazara
Amin memandang Suahasil sebagai sosok yang memiliki kompetensi mumpuni dan pengalaman panjang dalam pengelolaan kebijakan fiskal. Mengingat posisinya terdahulu sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) dan Wakil Menteri Keuangan, Suahasil dinilai sangat memahami seluk-beluk penyusunan APBN hingga dinamika pasar keuangan.
"Pak Suahasil bukan orang baru dalam pengelolaan fiskal. Pengalaman tersebut merupakan modal penting untuk menjaga kesinambungan sekaligus melakukan perbaikan terhadap kebijakan yang masih perlu diperkuat,” tuturnya.
Menjaga Kepercayaan Pasar
Tantangan utama bagi Menteri Keuangan yang baru, lanjut Amin, adalah menjaga confidence atau kepercayaan pasar. Investor memerlukan kepastian terkait arah APBN, pengelolaan utang, kebijakan perpajakan, hingga koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter.
Ia mengingatkan agar komunikasi pemerintah tetap terukur dan konsisten guna menghindari sinyal kebijakan yang simpang siur. "Pasar dapat menerima berbagai pilihan kebijakan sepanjang arahnya jelas, konsisten, dan dapat diprediksi," tambahnya.
Terkait respons positif pasar yang ditandai dengan penguatan sejumlah saham perbankan pasca-penunjukan Suahasil, Amin meminta agar hal tersebut disikapi secara proporsional. Menurutnya, stabilitas pasar yang sesungguhnya dibangun melalui konsistensi kebijakan jangka menengah dan panjang, bukan sekadar fluktuasi harian.
Kualitas APBN dan Optimalisasi Pendapatan
Amin juga mendorong Suahasil untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas anggaran. Disiplin fiskal tidak boleh hanya dimaknai sebagai pemotongan belanja, melainkan harus memastikan setiap rupiah memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat.
“APBN harus sehat sekaligus produktif untuk memperkuat pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, penguatan penerimaan negara menjadi poin krusial melalui:
- Perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan.
- Perbaikan administrasi perpajakan.
- Penguatan kepabeanan dan cukai.
- Optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Sinergi APBN dan Danantara
Dalam hal pengelolaan aset negara, Amin menyoroti pentingnya hubungan yang transparan antara APBN dan Danantara. Ia menekankan bahwa Danantara harus berfungsi sebagai instrumen peningkatan nilai aset negara dan investasi jangka panjang, bukan sekadar sumber pembiayaan fiskal.
"Kita dukung agenda pemerintah untuk memperkuat perekonomian nasional. Namun, disiplin fiskal, transparansi, dan akuntabilitas harus tetap menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan rakyat dan pasar," pungkas Amin.


















































