Konsumsi Vitamin B2 Berpotensi Pangkas Risiko Demensia hingga 49 Persen

3 weeks ago 3
Konsumsi Vitamin B2 Berpotensi Pangkas Risiko Demensia hingga 49 Persen Ilustrasi(Magnific)

MENJAGA kesehatan fungsi otak pada usia lanjut kini mendapatkan titik terang baru dari bidang nutrisi. Sebuah studi observasional jangka panjang yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan konsumsi riboflavin, yang lebih dikenal sebagai vitamin B2, melalui asupan makanan harian berkaitan erat dengan penurunan risiko demensia parah.

Dalam riset tersebut, para peneliti dari Jepang memantau sebanyak 4.171 orang dewasa berusia 40 hingga 69 tahun selama rata-rata 15,4 tahun. Data asupan nutrisi peserta dihimpun menggunakan metode wawancara 24-hour dietary recall. Sementara itu, tingkat kejadian demensia parah yang membutuhkan perawatan harian dipantau melalui catatan sistem asuransi perawatan jangka panjang nasional di Jepang.

Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi riboflavin dalam jumlah tertinggi memiliki risiko hingga 49% lebih rendah untuk mengalami demensia parah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi riboflavin paling sedikit.

Perbandingan dengan Jenis Vitamin B Lainnya

Selain riboflavin, para peneliti juga mengamati dampak asupan jenis vitamin B lainnya terhadap kesehatan otak:

  • Vitamin B6 dan Folat (Vitamin B9): Turut menunjukkan efek perlindungan, namun dengan persentase yang lebih rendah, yakni mengurangi risiko demensia sekitar 20 persen.
  • Vitamin B12: Tidak menunjukkan hubungan statistik yang signifikan terhadap penurunan risiko demensia dalam pengamatan studi ini.

Menariknya, efek perlindungan paling kuat dari asupan riboflavin dan vitamin B6 terlihat pada individu yang tidak memiliki riwayat stroke. Temuan ini mengindikasikan jenis vitamin B tersebut kemungkinan berperan penting dalam membantu mencegah bentuk demensia non-vaskular atau jenis yang tidak dipicu langsung oleh kerusakan pembuluh darah otak.

Secara biologis, riboflavin memegang peranan krusial dalam metabolime energi seluler serta membantu mengurangi stres oksidatif pada jaringan otak. Nutrisi ini juga bekerja mendukung sistem antioksidan tubuh yang melindungi sel-sel saraf dari kerusakan akibat penuaan.

Catatan dan Sumber Makanan Alami

Meskipun hasilnya menjanjikan, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Karena bersifat studi observasional, penelitian ini menunjukkan adanya korelasi kuat, tetapi belum membuktikan secara mutlak bahwa riboflavin secara tunggal dapat mencegah demensia. Penilaian diet yang hanya diukur pada awal penelitian juga menjadi salah satu keterbatasan riset ini.

Para pakar menyarankan agar kebutuhan nutrisi otak dipenuhi melalui pola makan gizi seimbang daripada bergantung pada suplemen. Beberapa sumber makanan yang kaya akan riboflavin antara lain:

  • Produk olahan susu: Susu segar, yoghurt, dan keju.
  • Protein hewani: Telur, daging tanpa lemak, hati sapi, serta ikan seperti salmon.
  • Sayuran & Biji-bijian: Bayam, jamur, asparagus, kacang-kacangan, almond, serta biji bunga matahari.

Menerapkan pola makan bervariasi yang kaya akan vitamin B2 dapat menjadi salah satu langkah preventif sederhana untuk menjaga ketahanan dan fungsi kognitif otak hingga usia senja. (Eating Well/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |