Kontroversi Ed Sheeran dan Macklemore: Citra 'Nice Guy' di Tengah Badai Politik

3 days ago 2
 Citra 'Nice Guy' di Tengah Badai Politik Ed Sheeran(AFP/SCOTT EISEN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

ED Sheeran, salah satu penulis lagu paling sukses sepanjang masa, kini tengah menghadapi badai kontroversi terbesar dalam kariernya. Reputasi "everyman persona" yang ia bangun dengan hati-hati selama bertahun-tahun kini terancam runtuh akibat keputusan untuk mendepak opening act turnya di Amerika Serikat, rapper Macklemore.

Keputusan ini diambil menyusul pernyataan pro-Palestina yang dilontarkan Macklemore di atas panggung. Pada malam pertama tur, Macklemore menyerukan "Free Palestine" sambil menampilkan visual kehancuran di Gaza. Di malam berikutnya, ia menyebut jumlah korban jiwa sebagai genosida, sebuah klaim yang ditolak keras oleh Israel.

Tekanan dari Pemilik Stadion

Langkah mendepak Macklemore tidak terjadi begitu saja. Tekanan besar dilaporkan datang dari para pemilik stadion, yang kabarnya dipimpin oleh miliarder pemilik New England Patriots, Robert Kraft.

Organisasi seperti StopAntisemitism juga mengecam Macklemore, menuduhnya melakukan "penyergapan" terhadap penonton dengan pesan politik.

Setelah diskusi tertutup selama sepekan, Sheeran akhirnya merilis pernyataan pada hari Selasa. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut dibuat oleh promotor, bukan dirinya.

Sheeran mengaku telah mencoba menjadi jembatan antar pihak namun gagal, dan menyatakan dirinya "tidak terlibat langsung" (not complicit) dalam keputusan tersebut.

Pernyataan Ed Sheeran:
"Saya merasa ngeri dengan konflik antara Israel dan Palestina. Penderitaan di kedua belah pihak adalah tragedi kemanusiaan... Ada alasan mengapa saya tidak menggunakan platform profesional saya untuk politik—audiens saya mencakup orang muda, seringkali anak-anak, dari semua latar belakang."

Kritik dan Krisis Tur

Pernyataan Sheeran justru memicu reaksi negatif. Kritikus mempertanyakan mengapa ia tidak menyebutkan ribuan anak yang tewas di Gaza jika ia memang peduli pada anak-anak. Selain itu, klaim Sheeran bahwa ia selalu menjauhi politik dianggap tidak konsisten oleh publik.

Berikut adalah rekam jejak keterlibatan politik Sheeran yang kontras dengan sikap netralnya saat ini:

Tahun Aksi/Keterlibatan
2017 Menyatakan dukungan untuk pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn.
2018 Mengenakan kaus "Justice for Grenfell" di Stadion Wembley.
2022 Tampil di Concert For Ukraine.
2024 Merekam lagu protes tentang perang Ukraina bersama U2.

Eksodus Musisi Pendukung

Dampak dari keputusan ini terasa instan. Tiga musisi pembuka lainnya, Finneas, Aaron Rowe, dan Lukas Graham, memutuskan untuk mundur dari tur sebagai bentuk solidaritas terhadap Macklemore. Bahkan band pengiring Sheeran, Beoga, yang terlibat dalam lagu hit seperti Galway Girl, juga menyatakan berhenti.

Jeffrey Ingold, seorang jurnalis musik, menyebut sikap Sheeran sebagai bentuk "penakutan". Menurutnya, sebagai salah satu musisi terbesar di dunia, Sheeran memiliki kekuatan tawar untuk menolak tekanan pemilik stadion atau mencari venue alternatif.

Dilema Netralitas

Jem Aswad dari Variety berpendapat bahwa dalam isu yang sangat memecah belah ini, posisi netral hampir mustahil dipertahankan. Meski begitu, ia meragukan karier Sheeran akan hancur total, mengingat sebagian besar penggemarnya datang untuk hiburan, bukan untuk isu politik.

Tur Sheeran dijadwalkan berlanjut di Philadelphia pada hari Sabtu mendatang. Tanpa band pengiring, Sheeran kemungkinan akan kembali ke format lamanya: tampil solo dengan loop pedal.

Namun, setelah rangkaian tur ini berakhir di Meksiko pada Desember mendatang, Sheeran tampaknya harus merancang ulang langkah komunikasinya jika ingin memulihkan citra "pria baik-baik" yang kini mulai retak. (bbc/Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |