Krisis Ekonomi Iran: Hidup Layak Jadi Mimpi Buruk di Tengah Sanksi dan Perang

6 days ago 4
 Hidup Layak Jadi Mimpi Buruk di Tengah Sanksi dan Perang Warga Iran.(Al Jazeera)

BAGI banyak keluarga di Iran, menjalani kehidupan yang bermartabat kini terasa seperti mimpi yang jauh. Generasi muda Iran, terutama mereka yang lahir setelah revolusi 1979, sering menyebut diri mereka sebagai generasi yang terbakar. Mereka tumbuh dalam turbulensi politik dan ekonomi yang seolah tiada henti, mulai dari krisis sandera kedutaan AS hingga perang delapan tahun dengan Irak.

Kini, di tahun 2026, situasinya kian memburuk. Bardia, seorang pemuda berusia 23 tahun di Teheran Timur, mengungkapkan bahwa generasinya merasa memiliki nasib yang lebih buruk daripada pendahulu mereka. Sanksi yang semakin ketat menciptakan pasar kerja yang volatil dan inflasi yang mencekik.

"Menjadi mandiri, berkeluarga, membeli rumah, mobil, atau bahkan ponsel baru menjadi mimpi yang semakin jauh setiap hari," ujar Bardia kepada Al Jazeera.

Dekade Penuh Penderitaan

Kesalahan pengelolaan domestik dan korupsi selama puluhan tahun, ditambah intervensi eksternal, menyulitkan hidup sekitar 90 juta warga Iran. Situasi ini diperparah sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari lalu. Pengeboman berbulan-bulan, blokade angkatan laut, dan sanksi yang diintensifkan telah melumpuhkan ekonomi negara tersebut.

Pekan lalu, pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), yang diprediksi akan memicu efek inflasi lebih lanjut. Bagi keluarga Bardia, bertahan hidup adalah perjuangan harian. Ayahnya yang pensiunan terpaksa bekerja sebagai pengemudi transportasi daring dengan mobil tua, sementara ibunya menjahit di rumah untuk penghasilan tambahan.

Dengan total pendapatan keluarga sekitar 800 juta rial (sekitar Rp5,5 juta atau US$350) per bulan setelah subsidi, mereka harus menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok. "Kami mungkin hanya membeli daging sekali setiap enam hingga delapan minggu," kata Bardia. Mereka tidak lagi mampu membeli pakaian baru atau peralatan rumah tangga, bahkan berharap tidak ada tagihan medis yang mengacaukan anggaran mereka.

Inflasi Ekstrem dan Kejatuhan Mata Uang

Data dari Pusat Statistik Iran menunjukkan bahwa pada akhir Agustus, inflasi tahun ke tahun mencapai 89%, sementara inflasi pangan melonjak hingga lebih dari 127%. Mata uang nasional Iran, rial, terus merosot ke titik terendah sepanjang masa, menembus angka 1,37 juta rial per dolar AS di pasar bebas pekan lalu.

Meskipun ada sedikit perbaikan setelah muncul kabar mengenai kesepahaman dengan Oman terkait transit di Selat Hormuz, Iran tetap bersikeras tidak akan bernegosiasi dengan AS hingga syarat-syarat mereka dipenuhi, termasuk pencabutan blokade dan sanksi.

Realitas Pahit di Media Sosial:

Seorang pengguna X menuliskan keterkejutannya, "Saya ingat ayah saya membeli tanah dengan 10 juta toman (100 juta rial). Hari ini, dia pulang membawa sedikit daging dan mengatakan harganya 10 juta toman. Saya baru 24 tahun dan sudah melihat semua kegilaan ini!"

Erosi Ketahanan Ekonomi

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan para pemimpin lain menyatakan keinginan untuk mengakhiri status quo tidak perang, tidak damai yang merusak ekonomi. Namun, ketidakpastian ini memaksa rumah tangga untuk mengubah pola konsumsi secara drastis.

Ekonom Behnam Samadi menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi Iran selama ini ditopang oleh pengurangan konsumsi dan penurunan kesejahteraan rumah tangga. Warga Iran kini lebih fokus mempertahankan daya beli jangka pendek daripada perencanaan jangka panjang.

"Adaptasi ini tidak berarti standar hidup mereka tetap sama. Jika situasi ini terus berlanjut, apa yang kita sebut 'ketahanan' hari ini secara bertahap akan berubah menjadi 'erosi ketahanan'," pungkas Samadi. Banyak pihak kini tidak lagi bertanya apakah ekonomi Iran akan runtuh, melainkan seberapa lama degradasi ini bisa bertahan dan berapa besar biaya sosial yang harus dibayar. (Al Jazeera/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |