Ilustrasi.(Magnific)
KETIKA Diana Nyad berusia 64 tahun, ia mencetak sejarah dengan berenang sejauh 110 mil dari Kuba ke Florida tanpa kandang pelindung hiu. Itu merupakan upaya kelimanya selama lebih dari tiga dekade. Kini, di usia 76 tahun, Nyad merasa kondisinya jauh lebih baik dibandingkan saat ia melakukan pencapaian fenomenal tersebut 12 tahun lalu.
Kisah Nyad bukan sekadar anomali. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Geriatrics menunjukkan bahwa banyak orang berusia 65 tahun ke atas justru bisa menjadi lebih cepat, kuat, dan tajam seiring bertambahnya usia. Kuncinya ternyata bukan pada obat-obatan mahal, melainkan pada pola pikir.
Penuaan bukan Berarti Penurunan Mutlak
Becca Levy, profesor epidemiologi dan psikologi di Yale School of Public Health, memimpin penelitian yang menganalisis data dari Health and Retirement Study. Bersama rekannya Martin Slade, Levy mengamati ribuan peserta selama 12 tahun, memantau kesehatan kognitif dan kecepatan berjalan mereka sebagai indikator utama kebugaran fisik.
Hasilnya mengejutkan: hampir separuh peserta di atas usia 65 tahun mengalami peningkatan secara fisik, kognitif, atau keduanya. Kelompok yang mengalami peningkatan ini memiliki satu kesamaan: mereka memiliki pandangan positif terhadap penuaan.
Louise Aronson, pakar geriatri dari University of California, San Francisco, menegaskan bahwa penuaan memang tak terelakkan, tetapi bukan berarti jalan satu arah menuju penurunan. "Mungkin Anda tidak bisa mengangkat beban seberat 40 tahun lalu, tetapi Anda bisa mengangkat beban dua kali lebih berat dari tahun lalu karena Anda paham bahwa Anda bisa memengaruhi proses penuaan Anda sendiri," ujarnya.
Melawan Stereotip Negatif
Stereotip negatif tentang lansia masih sangat kuat. Survei global tahun 2024 menemukan bahwa 80 persen masyarakat umum secara keliru percaya bahwa demensia adalah bagian normal dari penuaan. Padahal, menurut Mark Lachs dari Weill Cornell Medicine, mayoritas lansia tidak memiliki gangguan kognitif dan tidak memerlukan bantuan untuk aktivitas sehari-hari.
Lachs mencatat bahwa aspek-aspek seperti penilaian (judgment), kebijaksanaan, kecerdasan emosional, dan bahkan kebahagiaan justru cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Kekuatan Pola Pikir: Efek Bola Salju
Mengapa sikap terhadap penuaan begitu penting? Lachs menjelaskan bahwa hal ini menciptakan siklus positif atau negatif. Jika seseorang merasa positif tentang penuaan, mereka akan lebih termotivasi untuk berinvestasi pada kesehatan, bersosialisasi, dan menjadi sukarelawan.
Interaksi sosial ini kemudian mendorong aktivitas fisik (seperti berjalan kaki menuju tempat pertemuan) dan stimulasi mental melalui percakapan. Levy menyebut fenomena ini sebagai efek bola salju yang meningkatkan umur panjang dan mencegah penyakit.
"Koneksi pikiran-tubuh ini ternyata sama kuatnya dengan banyak obat yang kami berikan, tetapi tanpa efek samping," kata Lachs.
Cara Mengubah Pola Pikir tentang Penuaan
Kabar baiknya, pola pikir terhadap penuaan bisa diubah. Berikut beberapa langkah yang disarankan para ahli:
- Interaksi Antargenerasi: Menghabiskan waktu dengan orang-orang dari berbagai usia membantu melawan ageism. Lansia bisa membagikan kebijaksanaan, sementara kaum muda membawa ide-ide baru dan kreativitas.
- Metode ABC: Dikembangkan oleh Becca Levy untuk melawan stereotip.
- Awareness (Kesadaran): Sadari pesan negatif tentang penuaan di media.
- Blame (Menyalahkan): Pahami bahwa tantangan di usia tua sering kali disebabkan oleh diskriminasi usia (ageism), bukan proses penuaan itu sendiri.
- Challenge (Tantang): Lawan keyakinan negatif tentang usia dalam diri sendiri dan masyarakat.
- Melihat Penuaan sebagai Hak Istimewa: Ingatlah bahwa setiap fase kehidupan memiliki kelebihan dan kekurangan. Menua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang.
Pesan utama dari penelitian ini sangat jelas bagi siapa pun yang memasuki usia senja: Jangan menyerah, karena hidup masih bisa menjadi lebih baik. (The Washington Post/I-2)


















































