Lebih dari IQ, Dokter Ungkap Faktor yang Menopang Kognitif Anak 

4 days ago 1
Lebih dari IQ, Dokter Ungkap Faktor yang Menopang Kognitif Anak  Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi dan Cynthia momfluencer menyampaikan paparan dalam acara “Growing Little Minds: The Science Behind Every Child’s Potential” di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta(MI/Chatrine)

BEBERAPA orangtua masih mengukur kemampuan anak dari nilai rapor, kemampuan berhitung, atau hasil tes IQ. Padahal, kemampuan kognitif anak mencakup lebih banyak aspek dan berkembang melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, stimulasi, serta kondisi biologis anak.

Dokter dan peneliti bidang kesehatan masyarakat Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi mengatakan IQ hanya salah satu indikator kemampuan kognitif. Menurutnya, kecerdasan anak dapat terlihat melalui berbagai kemampuan, termasuk kemampuan akademik, daya ingat, kemampuan merespons pertanyaan, kecakapan olahraga, hingga kemampuan mengeksplorasi lingkungan.

“Yang namanya intellectual itu adalah multiple intelligence. IQ itu cuma salah satu outcome. Jadi, jangan hanya melihat nilai akademik. Anak yang pintar olahraga, mampu merespons pertanyaan guru, punya working memory yang baik, atau mampu mengeksplorasi lingkungan juga menunjukkan kemampuan kognitif yang baik,” kata Ray dalam pemaparan materi di acara Growing Littel Minds: The Science Behind Every Child’s Potential di Jakarta

Otak dan Sistem Pencernaan

Menurut Ray, kemampuan tersebut perlu ditopang kondisi biologis anak, salah satunya melalui hubungan antara otak dan sistem pencernaan yang dikenal sebagai gut-brain axis. Hubungan tersebut memungkinkan sistem pencernaan dan otak saling berkomunikasi.

“Otak dan sistem pencernaan mempunyai hubungan bidireksional, saling berkomunikasi. Di dalam sistem pencernaan terdapat mikrobiota, termasuk bakteri baik seperti bifidobakteri. Mereka dapat menghasilkan sinyal dan metabolit yang berinteraksi dengan otak. Itu sebabnya kesehatan sistem pencernaan tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan kognitif anak,” jelasnya.

Hubungan tersebut dapat terlihat ketika anak mengalami tekanan, misalnya menjelang ujian sekolah. Kondisi itu dapat diikuti perubahan pada sistem pencernaan, seperti diare atau konstipasi. Karena itu, kesehatan saluran cerna menjadi salah satu bagian dari kondisi biologis yang perlu diperhatikan dalam mendukung perkembangan anak.

Kondisi biologis tersebut tidak terlepas dari pemenuhan nutrisi. Ray menekankan perkembangan anak tidak dapat didukung hanya dengan mengandalkan satu bahan makanan atau zat gizi tertentu. Anak membutuhkan nutrisi seimbang sesuai dengan tahapan perkembangannya.

“IQ atau apapun yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang, jadi tumbuh dan kembang ya, tumbuh itu berarti kan fisik, kembang itu merujuk ke developmental atau ke otak. Semua butuh balance nutrition, zat gizi komplit yang harus ada karbohidrat, protein, lemak, kemudian zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral,” ujar Ray.

Kebutuhan Nutrisi

Menurutnya, kebutuhan nutrisi juga berubah mengikuti tahapan perkembangan anak. Pada usia 0–2 tahun, perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Ray menyebut sekitar 85% otak manusia telah selesai dibuat sebelum usia dua tahun dan sekitar 95% selesai pada usia lima tahun.

“Nah, di usia ini butuh asupan nutrisi spesifik yang harus ngegasin, nge-push supaya tumbuh kembang otak yang lebih bagus. Nah, itu sebabnya di periode tertentu seperti di usia kurang dari 2 tahun, 5 tahun perlu ada asupan yang dipakai untuk milinisasi otak, dipakai untuk perkembangan selabut searah otak,” katanya.

Salah satu zat gizi yang disebut Ray ialah DHA Omega LC PUFA. Namun, ia tetap menekankan pentingnya pola makan seimbang. Anak di atas satu tahun, kata dia, harus mengonsumsi makanan keluarga dengan gizi seimbang, sedangkan kebutuhan zat gizi lainnya menyesuaikan tahapan usia.

Pemenuhan nutrisi tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Ray menyebut asupan serat sebagai salah satu hal yang paling sering dikesampingkan orang tua.

“Kalau saya merujuk ke penelitian, nomor 1 adalah kebiasaan asupan serat. Asupan serat ini yang paling banyak di kesampingan orangtua. Bahkan data penelitian di Indonesia itu lebih dari 50% anak Indonesia asupan seratnya kurang. Padahal ini penting untuk tumbuh kembang. Itu kebiasaan pertama,” kata Ray.

Pengaruh Gawai

Selain kurangnya asupan serat, Ray menyoroti kebiasaan memberikan gawai ketika anak makan agar anak tetap tenang. Ia juga mengingatkan kebiasaan orangtua yang tidak makan bersama anak. Menurutnya, waktu makan dapat menjadi ruang bagi anak untuk mencontoh perilaku orangtua sekaligus memperoleh stimulasi melalui interaksi keluarga.

“Jadi anak-anak itu kan makan itu mereka, pola perilaku anak itu mencontohkan, copy paste. Nah, makan itu adalah perilaku primitif yang menjadi 80% tumbuh kembang anak, itu bisa disimulasi lewat proses makan bersama. Udah banyak penelitian,” ujarnya.

Karena itu, Ray mendorong keluarga menyediakan waktu makan bersama setidaknya satu kali sehari. Menurutnya, pengembangan kemampuan anak tidak cukup diarahkan pada pencapaian IQ atau akademik, tetapi perlu didukung nutrisi seimbang, kesehatan pencernaan, stimulasi, dan lingkungan keluarga. (Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |