Azis Subekti.(MI/Usman Iskandar)
ANGGOTA DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam menghadapi dinamika konflik global modern. Ia menilai masyarakat internasional harus mulai meninggalkan ambisi kemenangan mutlak dan beralih membangun paradigma koeksistensi.
Menurut Azis, karakter konflik saat ini telah berubah drastis akibat keterhubungan ekonomi dan kemajuan teknologi. Dampak peperangan kini tidak lagi terbatas pada zona tempur, melainkan dapat dirasakan oleh wilayah yang letaknya sangat jauh dari pusat konflik.
"Kita hidup dalam dunia yang semakin terintegrasi, tetapi membawa perangkat psikologis yang dibentuk oleh ribuan tahun kompetisi antarkelompok," ujar Azis dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/7/2026).
Dampak Global Konflik Modern
Azis menyoroti beberapa fenomena yang menunjukkan betapa rentannya stabilitas dunia saat ini. Gangguan pada jalur perdagangan internasional, misalnya, dapat secara instan melonjakkan harga energi global. Selain itu, serangan siber di satu negara berisiko tinggi mengganggu stabilitas keuangan di belahan dunia lain.
Ia juga menyinggung penggunaan teknologi militer modern seperti pesawat nirawak (drone). Teknologi ini memungkinkan fasilitas bernilai tinggi diserang dengan biaya yang relatif murah, sehingga mengubah peta kekuatan di lapangan.
Dalam pandangannya, keberhasilan militer di era modern tidak lagi menjamin keuntungan politik maupun ekonomi yang berkelanjutan. "Semua pihak dapat menyerang. Namun, semakin sedikit pihak yang mampu menang secara mutlak," tegas legislator Gerindra tersebut.
Mengelola Persaingan demi Keberlangsungan
Lebih lanjut, Azis menjelaskan bahwa paradigma koeksistensi bukan berarti menghapus perbedaan atau menghentikan kompetisi antarnegara. Sebaliknya, pendekatan ini bertujuan mengelola persaingan agar tidak berujung pada kehancuran bersama (mutual destruction).
Pendekatan koeksistensi dinilai sangat relevan untuk menghadapi berbagai ancaman lintas negara yang membutuhkan kolaborasi global, seperti:
- Perubahan iklim
- Ancaman pandemi di masa depan
- Tata kelola kecerdasan buatan (AI)
Sebagai penutup, Azis menambahkan bahwa indikator keberhasilan suatu negara di masa depan tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer atau skala ekonomi semata. Kemampuan sebuah negara dalam menjaga kelestarian serta stabilitas perdamaian dunia akan menjadi tolok ukur utama kesuksesan di panggung internasional. (I-2)


















































