Angggota DPR RI Komisi X, Abdul Fikry Faqih(MI/Supardji Rasban)
KARAKTERISTIK pendidikan sangat krusial dan mendesak sebagai benteng utama pertahanan moral peserta didik. Secanggih apa pun teknologi atau kecerdasan buatan (AI) yang diadopsi dalam kurikulum nasional, penguasaan instrumen digital tersebut wajib diimbangi dengan etika dan karakter yang kuat agar tidak membawa dampak destruktif.
Hal itu disampaikan legislator/angggota DPR RI Komisi X, Abdul Fikry Faqih, seusai workshop pendidikan dengan tema “Penguatan Nilai-Nilai Karakter Dalam Digitalisasi Pendidikan” di sebuah hotel di Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (22/8).
Fikri menilai bahwa tantangan digital yang dihadapi anak-anak saat ini sudah sangat kompleks. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan juga menyangkut pembentukan etika, daya tahan mental, dan kesadaran kritis.
“Oleh karenanya literasi digital harus dipahami sebagai kecakapan hidup komprehensif yang membentuk individu menjadi pengguna teknologi yang bijak, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Fikry.
Fikry menyebut Komisi X DPR RI mendorong penguatan pendidikan karakter dan etika moral masuk ke dalam kurikulum nasional melalui revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
“Penguatan pendidikan karakter dan etika moral masuk ke dalam kurikulum nasional sangat tepat untuk mengatasi masalah sosial yang sering terjadi, seperti perundungan, kekerasan digital, dan degradasi moral pada peserta didik,” jelas legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah.
PENANAMAN KARAKTER POSITIF
Direktorat Paud Kemendikdasmen, Djajeng Baskoro, menyampaikan workshop pendidikan penguatan nilai-nilai karakter adalah kegiatan pelatihan strategis untuk meningkatkan kompetensi dan pemahaman guru dalam mengimplementasikan penanaman karakter positif pada siswa.
“Kegiatan ini berfokus pada pembekalan praktis agar pendidik mampu mengintegrasikan nilai moral, sikap, dan kebiasaan baik ke dalam ekosistem belajar siswa,” ujar Djajeng.
Menurut Djajeng melalui kegiatan pembekalan ini, pihaknya ingin guru dan tenaga pendidikan aktif dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. “Secara nyata ke dalam kebiasaan harian dan budaya di lingkungan sekolah,” jelas Djajeng.
Kepala Disdikbud Kota Tegal, Dewi Umaroh yang diwakili Kabid PPTK, Listiana kusumawardani, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan workshop pendidikan dan inovasi khususnya pendidikan digitalisasi yang diinisiasi oleh Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih.
“Kegiatan tersebut sejalan dengan program krusial dari Kementerian Pendidikan. Digitalisasi pendidikan itu sangat penting yang harus diimbangi dengan proses penguatan karakter, baik itu guru maupun siswa,” ujar Listiana. (E-2)


















































