Literasi dan Sains Indonesia Naik meski belum Capai Target

1 week ago 3
Literasi dan Sains Indonesia Naik meski belum Capai Target Ilustrasi(Antara)

HASIL Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mencatat adanya perbaikan kemampuan sains dan membaca siswa Indonesia. 

Kendati demikian, capaian ini dinilai belum memadai lantaran mayoritas siswa masih belum mencapai tingkat kompetensi dasar.

Berdasarkan laporan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dirilis Selasa (8/9), siswa Indonesia meraih skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika.

Dibandingkan hasil PISA 2022, perolehan sains naik enam poin dan membaca naik tujuh poin, sedangkan matematika turun dua poin.

Dari 90–91 negara peserta, Indonesia berada di posisi ke-73 untuk sains, ke-74 untuk membaca, dan ke-78 untuk matematika. Peringkat itu tercatat turun lantaran peningkatan negara lain berlangsung jauh lebih cepat.

Tantangan utama pendidikan nasional terlihat dari masih tingginya persentase siswa yang belum mencapai kompetensi dasar (Level 2), yakni 63,2% pada sains, 72,89% pada membaca, dan 83,07% pada matematika. 

Selain itu, persentase siswa yang mampu menyentuh Level 5 atau 6 di ketiga bidang tersebut masih nyaris nol persen.

Anggota Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP) Achmad Rizali menilai perolehan tersebut tetap memberikan harapan.

Namun, ia juga mengingatkan beratnya tantangan mengejar target PISA 2029, terutama pada matematika yang membutuhkan lonjakan hingga 45 poin dari skor saat ini.

Achmad menekankan bahwa skor PISA turut berdampak terhadap Human Capital Index (HCI) dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Guna mengejar ketertinggalan, Achmad merekomendasikan penerbitan Inpres Mutu SD/MI, penggabungan Gerakan Nasional Numerasi dan Gerakan Literasi Sekolah menjadi gerakan nasional, evaluasi mutu guru PGSD dan PPG, serta evaluasi penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

"Meski naiknya hanya tipis dan ada yang turun, masih ada harapan. Beberapa ikhtiar dari kementerian yang berdampak positif harus terus digenjot," ujar Achmad.

"Jika skor PISA rendah, rendah pula HCI-nya dan target PDB sulit dicapai," tambahnya.

Di lain sisi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melihat capaian PISA 2025 ini beriringan dengan meluasnya akses pendidikan. 

Coverage Index Indonesia tercatat meningkat pesat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin menyebut perluasan akses tersebut merupakan modal penting bagi perkembangan pendidikan nasional. 

Sebagai langkah pembenahan ke depan, Kemendikdasmen menyiapkan empat pilar utama, di antaranya peningkatan kompetensi guru lewat pelatihan berbasis eksperimen, penguatan PPG, hingga pembekalan koding dan kecerdasan artifisial.

"Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains," kata Toni. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |