Ilustrasi(magnific)
POLA makan sehat tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan pangan yang dipilih, tetapi juga sangat bergantung pada cara mengolahnya. Saat ini, semakin banyak masyarakat yang mulai mengurangi konsumsi makanan berminyak dan beralih ke metode memasak yang lebih minim lemak, seperti merebus atau mengukus.
Tren mengonsumsi makanan kukus kerap dianggap sebagai pilihan utama bagi mereka yang ingin hidup lebih sehat. Hal ini karena proses pengukusan tidak membutuhkan minyak tambahan dan diklaim mampu menjaga kualitas gizi bahan makanan. Namun, muncul pertanyaan, apakah mengonsumsi makanan kukus setiap hari benar-benar memberikan dampak positif yang optimal bagi tubuh?
Manfaat Mengolah Makanan dengan Cara Dikukus
Mengukus merupakan teknik memasak menggunakan uap panas. Metode ini menawarkan berbagai keunggulan, mulai dari aspek kesehatan hingga tekstur hidangan yang dihasilkan. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari makanan kukusan:
- Rendah Lemak dan Kalori: Karena tidak memerlukan minyak goreng atau mentega dalam prosesnya, makanan yang dikukus secara otomatis memiliki kandungan lemak dan kalori yang lebih rendah dibandingkan makanan yang digoreng. Ini menjadikannya opsi ideal untuk program diet atau pembatasan asupan lemak.
- Mempertahankan Nutrisi: Berbeda dengan teknik merebus ketika bahan makanan terendam air, pengukusan meminimalisir kontak langsung dengan air. Hal ini efektif mencegah larutnya vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan beberapa jenis vitamin B.
- Tekstur dan Rasa Alami: Uap panas membuat serat makanan, terutama sayuran, menjadi lebih lembut tanpa merusak bentuk, warna, maupun rasa aslinya. Tekstur yang lunak ini juga memudahkan proses pengunyahan, sehingga sangat cocok untuk dikonsumsi oleh bayi (MPASI) maupun lansia.
Perbandingan Metode Memasak: Mengukus vs Menggoreng & Merebus
| Penggunaan Minyak | Tidak memerlukan minyak | Membutuhkan minyak (goreng) |
| Kandungan Vitamin C | Terjaga lebih baik | Mudah larut/rusak oleh air/panas tinggi |
| Tekstur Makanan | Lembut dan bentuk terjaga | Bisa menjadi lembek atau keras |
| Kehilangan Zat Gizi | Minimal (karena suhu stabil) | Lebih besar (kontak air/suhu ekstrem) |
Perspektif Ahli: Aman untuk Konsumsi Harian?
Berdasarkan laporan dari IPB University, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah dibandingkan teknik deep frying sangat membantu dalam mempertahankan kandungan mineral dan vitamin dalam bahan pangan. Karena bahan pangan tidak bersentuhan langsung dengan air, risiko kehilangan zat gizi makro maupun mikro dapat ditekan sekecil mungkin.
Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah, menjelaskan bahwa makanan yang dikukus sangat aman dan layak dikonsumsi setiap hari sebagai bagian dari pola makan sehat. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai keseimbangan nutrisi.
Meski sehat, konsumsi makanan kukus tetap harus memperhatikan variasi. Masyarakat disarankan untuk tidak hanya terpaku pada satu jenis bahan pangan saja. Makanan kukusan, seperti sayur-mayur atau umbi-umbian, sebaiknya tetap dipadukan dengan sumber protein yang memadai agar kebutuhan gizi harian tubuh terpenuhi secara seimbang.
Selain itu, durasi memasak juga memegang peranan penting. Memasak dengan waktu yang lebih singkat saat mengukus dapat membantu mempertahankan kadar vitamin C yang lebih tinggi, sehingga manfaat kesehatan yang didapatkan bisa lebih maksimal. (IPB University, Kemenkes, Halodoc/Z-1)


















































