Matahari Pernah Menelan Planet Super-Earth? Ini Temuan Terbaru Ilmuwan

6 days ago 3
Matahari Pernah Menelan Planet Super-Earth? Ini Temuan Terbaru Ilmuwan Ilustrasi karya seniman tentang sebuah bintang yang menelan sebuah planet. Garis biru menelusuri jalur planet saat ia berputar spiral menuju bintang dan akhirnya bertabrakan dengannya.(NASA, ESA, CSA, Ralf Crawford (STScI))

BINTANG induk dan sumber energi utama Tata Surya kita mungkin memiliki masa lalu yang kelam. Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, Matahari diduga pernah menelan sebuah planet berukuran "Super-Earth" pada masa awal pembentukannya miliaran tahun lalu.

Jejak dari peristiwa kosmik tersebut diyakini masih tersembunyi jauh di dalam interior Matahari. Penemuan ini sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan besar para astronom mengenai alasan mengapa Tata Surya kita tidak memiliki planet berjenis Super-Earth, padahal jenis planet tersebut sangat umum ditemukan di sistem bintang lain.

"Studi baru kami menunjukkan sebuah planet dengan massa beberapa kali lebih besar dari Bumi mungkin telah jatuh ke dalam Matahari yang masih muda dan meninggalkan jejak kimiawi yang bertahan lama jauh di dalamnya," kata Mutlu Yildiz dari Universitas Ege, Turki, dalam sebuah pernyataan resmi.

Penelitian ini digagas untuk memecahkan ketidakcocokan antara pengamatan fisik Matahari dan model teoritis evolusi bintang yang selama ini digunakan para ilmuwan. Perbedaan tersebut mencakup kedalaman zona konveksi Matahari serta struktur kecepatan gelombang suara di lapisan tepat di bawah zona konveksi. Selain itu, model ini juga membantu menjelaskan mengapa permukaan Matahari kekurangan unsur litium.

"Dengan memodelkan evolusi Matahari dan membandingkan hasilnya dengan pengamatan presisi terhadap bagian dalamnya, kami menemukan bahwa penyerapan Super-Earth dapat membantu menjelaskan perbedaan yang telah lama ada antara model standar Matahari dan hasil pengamatan, termasuk perubahan halus pada struktur internal Matahari serta kelimpahan litiumnya yang menipis," jelas Yildiz. "Kami tertarik untuk mengetahui apakah masalah-masalah ini memiliki asal-usul yang sama dalam sejarah kimia awal Matahari."

Yildiz memaparkan bahwa pada masa awal pembentukannya, bintang muda seperti Matahari dikelilingi oleh piringan protoplanet, awan datar raksasa yang terdiri dari gas dan debu. Dalam kondisi tersebut, pergerakan material antara piringan dan bintang induk terjadi secara intensif.

"Karena planet terbuat dari material yang secara kimiawi berbeda dari gas di dalam piringan, kami bertanya-tanya apakah penelanan planet pada masa awal dapat meninggalkan jejak kimia di dalam Matahari muda," tambah Yildiz.

Menggunakan perangkat lunak pemodelan evolusi bintang yang canggih, tim peneliti mensimulasikan berbagai skenario penelanan planet oleh Matahari. Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik Matahari saat ini paling cocok dengan skenario penelanan planet yang memiliki massa antara lima hingga sepuluh kali massa Bumi.

"Kami mengira penelanan planet mungkin memengaruhi struktur Matahari, tetapi tidak menyangka kalkulasi akan mengerucut pada rentang massa Super-Earth yang begitu spesifik," ujar Yildiz. "Itu adalah salah satu hasil paling menarik dari studi ini."

Studi ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menduga satu atau lebih planet Super-Earth pernah terbentuk di dekat orbit Merkurius. Planet-planet tersebut kemudian bermigrasi melalui piringan protoplanet sebelum akhirnya tertarik dan jatuh ke dalam Matahari.

Kendati demikian, para peneliti menegaskan teori ini masih berbasis pemodelan komputer. Langkah selanjutnya adalah membuktikan keberadaan jejak kimiawi dan struktural tersebut secara independen melalui pengamatan lanjutan.

"Pekerjaan sebelumnya mengusulkan Super-Earth bisa saja terbentuk dan bermigrasi ke dalam Matahari muda. Makalah kami mempertanyakan apakah Matahari itu sendiri masih menyimpan bukti yang dapat diamati bahwa penelanan tersebut benar-benar terjadi, dan kami percaya itu mungkin," pungkas Yildiz. "Langkah selanjutnya adalah melihat apakah 'sidik jari' ini dapat dideteksi secara independen." (space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |