Menembus Perairan Segara Anakan, Menjaga Kesehatan Warga Terpencil

3 weeks ago 9
Menembus Perairan Segara Anakan, Menjaga Kesehatan Warga Terpencil Layanan kesehatan gratis yang dibarengkan dengan imunisasi untuk anak-anak SD di Kampung Laut, Cilacap.(MI/Lilik Darmawan)

DERU mesin perahu mulai memecah keheningan Dermaga Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (18/8) pagi. Sehari setelah peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, sejumlah tenaga kesehatan kembali memulai perjalanan. 

Dengan perahu berukuran sekitar 1,5 x 9 meter, mereka menyusuri perairan Segara Anakan yang dikelilingi hamparan mangrove. Tujuannya, mendatangi anak-anak di sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil. Sekitar 30 menit perjalanan, perahu akhirnya tiba di Desa Ujung Alang. 

Di SD Negeri 2 Ujung Alang, puluhan siswa sudah menunggu layanan kesehatan yang datang langsung ke sekolah mereka. Ketika petugas memasuki ruang kelas, sebagian anak tampak canggung. Ada yang memilih duduk diam, ada pula yang terlihat sedikit takut ketika melihat perlengkapan pemeriksaan dan imunisasi. Setelah mendapat penjelasan dari guru dan tenaga kesehatan, satu per satu anak mulai maju.

Altar, 7, menjadi salah seorang siswa yang cukup berani mengambil giliran. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dia juga mendapat imunisasi difteri dan tetanus.

"Awalnya diperiksa, terus kemudian diimunisasi. Karena disuntik ya sakit, tapi hanya sebentar," ujar Altar dengan polos. 

Rasa takut juga sempat dirasakan Naufal, 7. Namun, siswa SD itu akhirnya mengikuti pemeriksaan dan imunisasi. 

"Awalnya sih takut. Tapi kata Bu Guru harus ikut, ya sudah ikut saja," katanya singkat. 

Hari itu, layanan kesehatan tidak hanya menyasar siswa SD Negeri 2 Ujung Alang. Petugas juga memberikan pelayanan kepada anak-anak di SD Negeri 3 Ujung Alang dan SD Negeri 3 Panikel. Untuk menuju desa lain, para petugas harus kembali menempuh perjalanan dengan perahu. 

Altar, 7, menjadi salah seorang siswa yang cukup berani mengambil giliran. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dia juga mendapat imunisasi difteri dan tetanus.

"Awalnya diperiksa, terus kemudian diimunisasi. Karena disuntik ya sakit, tapi hanya sebentar," ujar Altar dengan polos. Rasa takut juga sempat dirasakan Naufal, 7. 

Namun, siswa SD itu akhirnya mengikuti pemeriksaan dan imunisasi. 

"Awalnya sih takut. Tapi kata Bu Guru harus ikut, ya sudah ikut saja," katanya singkat. 

Hari itu, layanan kesehatan tidak hanya menyasar siswa SD Negeri 2 Ujung Alang. Petugas juga memberikan pelayanan kepada anak-anak di SD Negeri 3 Ujung Alang dan SD Negeri 3 Panikel. Untuk menuju desa lain, para petugas harus kembali menempuh perjalanan dengan perahu.

Bidan Puskesmas Kampung Laut, Sukesih, mengatakan kondisi geografis membuat tenaga kesehatan harus memiliki cara tersendiri untuk memastikan layanan kesehatan dapat menjangkau seluruh warga. 

"Petugas kesehatan dari Puskesmas Kampung Laut harus menggunakan perahu untuk menjangkau desa-desa di kecamatan ini. Yang tidak pakai perahu hanya Desa Klaces karena lokasinya satu daratan dengan puskesmas," kata Sukesih yang saat itu bertugas bersama Bidan Zia. 

Jarak dan waktu menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan di Kampung Laut. Karena itu, Puskesmas Kampung Laut memilih mendatangi warga, termasuk anak-anak di sekolah, daripada menunggu mereka datang. Untuk mengefisienkan perjalanan, pemeriksaan kesehatan gratis digabungkan dengan layanan imunisasi. 

Menurut Sukesih, layanan tersebut merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis dengan semangat mencegah penyakit sejak dini sekaligus memberikan pengobatan jika ditemukan masalah kesehatan. Menurutnya, untuk mengefisienkan waktu karena lokasinya cek kesehatan gratis dilaksanakan berbarengan dengan imunisasi. 

“Dalam program Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati, maka tidak hanya mengecek kesehatan saja, namun juga melakukan pencegahan dini dan mengobati. Sebagai contoh, setiap enam bulan sekali, anak-anak di Kampung Laut diberi obat cacing. Tujuannya untuk mencegah cacingan dan mengobatinya. Itu untuk anak-anak,” jelasnya. 

Kepala Puskesmas Kampung Laut dr Oktaryan Eko Arrianto mengatakan, karakter wilayah kepulauan dan perairan membuat pelayanan kesehatan di daerah tersebut harus dirancang dengan pendekatan berbeda. 

Para tenaga kesehatan harus mampu memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya. Salah satu caranya adalah mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan beberapa layanan sekaligus. 

"Para petugas kesehatan langsung jemput bola ke sekolah-sekolah. Tidak perlu siswa datang ke puskesmas. Kami mendatangi mereka sekaligus menggelar imunisasi," ujar Oktaryan.

Dalam kunjungan tersebut, petugas melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan imunisasi kepada siswa. Untuk anak-anak sekolah dasar, tersedia imunisasi DT atau difteri dan tetanus. 

Sementara siswi kelas V mendapat tambahan imunisasi HPV untuk memberikan perlindungan dari infeksi Human Papillomavirus yang dapat menjadi penyebab utama kanker leher rahim. Program Cek Kesehatan Gratis, kata Oktaryan, tidak hanya menyasar pelajar. Layanan tersebut juga diperuntukkan bagi masyarakat secara lebih luas. Akses menuju layanan kesehatan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi warga Kampung Laut. 

Kondisi serupa juga dialami tenaga kesehatan ketika harus menempuh perjalanan menuju wilayah lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lanjutan. 

"Petugas kesehatan juga harus menempuh perjalanan lebih lama untuk mendapatkan layanan kesehatan jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Cilacap," katanya.

Bagi Oktaryan, pemeriksaan kesehatan tidak semata tentang mengetahui angka tekanan darah, kadar gula, atau hasil pemeriksaan laboratorium lainnya. Ada sisi lain yang lebih penting, yakni memastikan warga merasa didengar dan diperhatikan. 

"Ini juga tentang mendengar, memahami, dan memastikan setiap warga dimanusiakan," ujarnya. 

Setiap pemeriksaan, menurut dia, memiliki arti penting karena di balik hasil pemeriksaan tersebut terdapat kehidupan yang harus dijaga. Deteksi dini menjadi pintu awal untuk mencegah kondisi kesehatan yang lebih serius. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal jauh dari rumah sakit. 

"Di tengah tantangan geografis Kampung Laut, kami ingin memastikan setiap warga tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kesehatan bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan yang harus dapat diakses oleh semua orang," tambahnya.

Dampak Layanan 

Arjo Parlan, 57, warga Desa Klaces, mengaku kini lebih memahami kondisi kesehatannya setelah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Kampung Laut. 

"Saya jadi tahu tensinya berapa, kemudian kadar gula dan kolesterol. Saya manut saja sama kata Pak Dokter supaya tetap sehat. Pokoknya saya berterima kasih karena telah mendapat layanan pemeriksaan gratis," ujarnya. 

Menurut Arjo, pemeriksaan sejak dini jauh lebih baik dilakukan sebelum penyakit berkembang dan mengharuskannya dirujuk ke rumah sakit. Bagi warga Kampung Laut, perjalanan menuju rumah sakit di Cilacap bukan perkara sederhana. Mereka harus menyeberangi Segara Anakan dan menempuh perjalanan yang bisa memakan waktu hingga sekitar dua jam. 

"Lebih baik pemeriksaan apakah ada sakit atau tidak daripada harus dirujuk ke rumah sakit," tuturnya. 

Harapan serupa disampaikan Haryani, 27, warga Desa Ujung Gagak yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya dalam usia kehamilan hampir sembilan bulan.

Ia telah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis dan rutin memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kampung Laut. 

"CKG itu sangat penting karena kita akan bisa melakukan deteksi dini mengenai adanya penyakit atau tidak. Alhamdulillah kalau saya sehat. Saya berharap nantinya tidak dirujuk ke rumah sakit di Cilacap," katanya. 

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara langsung ke sekolah juga membantu tenaga kesehatan memetakan persoalan yang dihadapi anak-anak. Menurut Oktaryan, pemeriksaan di Kampung Laut menemukan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari kebersihan kuku, gangguan pada telinga, hingga gigi berlubang. Petugas juga menemukan adanya anak yang mengalami masalah kekurangan gizi. 

"Anak-anak ditemukan kukunya kotor, telinganya ada masalah serta gigi berlubang. Jadi mereka kami imbau untuk meningkatkan kebersihan agar jangan sampai cacingan. Malah kami juga menemukan adanya anak yang kurang gizi. Nantinya, setelah ada CKG ada tindak lanjutnya secara medis," ungkapnya.

Bagi tenaga kesehatan, temuan tersebut menjadi dasar untuk memberikan pendampingan berikutnya. Pemeriksaan tidak berhenti ketika petugas meninggalkan sekolah dan kembali naik perahu. Program ini menjadi pintu untuk mendeteksi, mencegah, dan menangani masalah kesehatan sejak lebih awal.

Di tingkat Kabupaten Cilacap, program Cek Kesehatan Gratis menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap Annisa Fabriana mengatakan CKG dan penuntasan tuberkulosis merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat yang menjadi prioritas nasional. 

"Kami minta seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan harus bekerja lebih masif, agresif, dan terkoordinasi," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap hingga akhir Mei 2026, capaian CKG telah menjangkau 447.175 orang atau 21,6% dari total sasaran 2.065.475 orang. Di sisi lain, penuntasan TBC juga masih menjadi pekerjaan besar.

Target penemuan kasus TBC di Cilacap pada 2026 mencapai 6.261 kasus, meningkat dari target sebelumnya sebanyak 5.332 kasus. Hingga periode tersebut, capaian penemuan kasus baru mencapai sekitar 36%. Kepala Dinkes PPKB Cilacap Hasanudin mengatakan capaian penuntasan TBC hingga minggu ke-21 tahun 2026 mencapai 36,3%. 

Penemuan kasus TBC anak tercatat 40,3%, dengan Kecamatan Sampang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 195 kasus. Untuk mempercepat pengendalian TBC, pemerintah menetapkan 10 puskesmas prioritas dengan beban kasus tertinggi, yakni Kedungreja, Kawunganten, Bantarsari, Kesugihan II, Majenang I, Majenang II, Gandrungmangu, Binangun, Kroya I, dan Cipari.

Bagi Kabupaten Cilacap yang memiliki wilayah luas dan bentang geografis beragam, tantangan pelayanan kesehatan memang tidak selalu sama. Di Kampung Laut, misalnya, tantangan itu berbentuk perjalanan yang harus ditempuh melalui perairan. 

Namun, di atas perahu-perahu yang melintas di antara hutan mangrove, pelayanan kesehatan terus bergerak. Setiap perjalanan membawa pesan sederhana bahwa jarak tidak seharusnya menjadi alasan bagi warga untuk kehilangan hak mendapatkan layanan kesehatan. Para petugas kesehatan meyakinkan warga bahwa negara tetap hadir, bahkan di lokasi-lokasi terpencil dan harus ditempuh dengan menembus perairan dan hutan mangrove. (LD/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |