Mengapa Astronot Sulit BAB di Luar Angkasa? Ilmuwan Temukan Jawabannya!

1 month ago 33
Mengapa Astronot Sulit BAB di Luar Angkasa? Ilmuwan Temukan Jawabannya! Para astronot mengalami perubahan pencernaan dalam kondisi mikrogravitasi, yang dapat memperlambat pergerakan makanan melalui usus dan membantu menjelaskan mengapa sembelit sering terjadi di luar angkasa.(Frans Wej/Jean Beaufort/Elionas2)

PARA astronot yang bertugas di luar angkasa sejak lama menghadapi masalah sembelit atau kesulitan buang air besar (BAB). Kini, para ilmuwan mulai memahami penyebab biologis di balik gangguan pencernaan tersebut.

Sebuah penelitian terbaru yang menganalisis sampel darah dari 52 astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menunjukkan kondisi mikrogravitas atau nirgravitas memperlambat pergerakan makanan di dalam usus. Kondisi ini mengubah cara bakteri usus memecah nutrisi. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini diharapkan dapat membantu merancang strategi diet bagi misi jangka panjang ke Bulan dan Mars, sekaligus memberikan petunjuk baru bagi penanganan masalah pencernaan di Bumi.

Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan NASA meneliti 488 sampel plasma darah astronot yang menjalankan misi antara dua hingga sembilan bulan sepanjang periode 2006 hingga 2018. Menggunakan teknik metabolomik, mereka mengukur molekul-molekul kecil dalam darah untuk melihat respons kimiawi tubuh dan mikrobioma usus terhadap kondisi luar angkasa.

Peneliti menemukan perubahan pada sekitar 40 senyawa dalam darah, termasuk peningkatan metabolit yang dihasilkan saat bakteri usus mem fermentasi protein. Perubahan ini muncul tak lama setelah astronot tiba di luar angkasa dan baru mereda beberapa hari setelah kembali ke Bumi.

"Kami melihat perubahan pada sampel darah astronot yang menunjukkan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya dalam beberapa minggu setelah astronot tiba di luar angkasa, dan perubahan ini berlanjut hingga mereka kembali ke Bumi," kata Giorgia La Barbera, salah satu penulis utama studi dan profesor madya di Departemen Nutrisi, Olahraga, dan Olahraga Universitas Kopenhagen.

Dalam kondisi normal, bakteri usus memfermentasi serat dan karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, ketika pencernaan melambat, pasokan karbohidrat menipis sehingga mikroba beralih memecah protein dan menghasilkan metabolit berbeda yang masuk ke aliran darah. Analisis menunjukkan faktor diet seperti asupan kafein, ikan, dan lemak hanya menyumbang kurang dari sepertiga perubahan metabolisme tersebut.

"Kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan menyebabkan makanan bergerak lebih lambat melalui usus, dan ini sesuai dengan fakta bahwa kita melihat tanda-tanda peningkatan fermentasi protein," ujar Henrik Roager, rekan penulis studi dan profesor madya di Departemen Nutrisi, Olahraga, dan Olahraga Universitas Kopenhagen. "Ini juga dapat membantu menjelaskan sembelit pada astronot."

Selain memicu ketidaknyamanan, proses fermentasi protein berlebih dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida yang berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh. Sebagai solusinya, para peneliti menyarankan peningkatan asupan karbohidrat yang terfermentasi secara perlahan, seperti penambahan serat pada makanan astronot, guna menjaga keseimbangan kerja bakteri usus selama misi antariksa. (Space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |