Esmail Baghaei.(Al Jazeera)
LANGIT Iran dilaporkan telah bersih dari suara ledakan dan serangan udara selama beberapa hari terakhir setelah hampir dua pekan pertempuran sengit dengan Amerika Serikat (AS). Namun, ketenangan ini tidak berarti perdamaian tercapai. Pejabat Iran menegaskan bahwa mereka belum menyetujui gencatan senjata dan tidak terburu-buru untuk melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Amerika.
Alih-alih mencari kompromi, Teheran justru menunjukkan sikap percaya diri. Para pejabat militer Iran sesumbar atas keberhasilan mereka di medan perang, sementara para diplomat menepis klaim AS yang menyebut Iran sangat ingin kembali ke meja perundingan. Retorika ini mengindikasikan bahwa pemimpin Iran merasa nyaman dengan status limbo atau ketidakpastian perang saat ini dengan keyakinan bahwa mereka memiliki posisi tawar yang kuat terhadap Presiden Donald Trump.
Prioritas Kendali Selat Hormuz
Fokus utama yang diprioritaskan Iran saat ini adalah pengakuan atas kendali mereka terhadap Selat Hormuz. Jalur perairan kritis untuk pengiriman minyak dan gas global ini efektif ditutup oleh Iran setelah serangan dari AS dan Israel pada Februari lalu. Sejauh ini, Amerika Serikat tetap enggan memberikan konsesi terkait kendali jalur strategis tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan posisi negaranya dalam konferensi pers pada Senin (27/7/2026). "Saat ini, apa yang terjadi tidak dapat digambarkan sebagai gencatan senjata," ujar Baghaei.
Ia juga membantah klaim Trump yang menyebut Iran meminta jeda untuk berunding. Baghaei menyatakan bahwa saat ini tidak ada negosiasi langsung dengan AS, meskipun ia mengakui Pakistan dan Qatar bertindak sebagai mediator.
Kutipan Penting: "Mereka (Iran) percaya bahwa waktu berpihak pada mereka, bahwa mereka dapat menyerap rasa sakit dan tekanan lebih sukses daripada Donald Trump, dan pada akhirnya Trump akan menyetujui kesepakatan yang sesuai dengan tuntutan mereka tanpa konsesi dari pihak Iran," kata Gregory Brew, analis senior Iran di Eurasia Group.
Risiko Ekonomi dan Ancaman Serangan Lanjutan
Meski Iran menunjukkan sikap keras, para analis memperingatkan ada risiko besar. Ketidakpastian antara perang dan damai menjadi tantangan berat bagi ekonomi Iran yang terus memburuk akibat kehancuran perang dan blokade angkatan laut AS. Pertempuran bisa pecah kembali kapan saja, dan penyelesaian akhir tampak masih sangat jauh.
Ramazan Sharif, mantan juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyatakan pada Minggu bahwa musuh Iran telah menghadapi kekalahan strategis di setiap langkah. Namun, Gregory Brew menilai Iran berisiko bertindak terlalu jauh (overreaching). Menurutnya, bagi Trump, meningkatkan eskalasi perang mungkin lebih menarik daripada menerima kesepakatan yang memberikan kendali penuh Selat Hormuz kepada Iran, terutama karena negara-negara lain kemungkinan besar tidak akan menerima penerapan tarif atau tol pada kapal-kapal yang melintas.
Jeda serangan baru-baru ini sempat membuat harga minyak dunia turun setelah sebelumnya melonjak tajam akibat pertempuran. Namun, jika Iran tidak dapat menerima pengaturan kompromi untuk masa depan Selat Hormuz, Trump diprediksi akan kembali ke taktik serangan udara untuk memaksa Iran mundur, yang berpotensi menghancurkan sisa-sisa kemampuan militer dan ekonomi Iran yang sudah babak belur. (New York Time/I-2)


















































