Mengapa Mobil Listrik Bisa Mati Mendadak di Rel Kereta Api? Ini Penjelasan Pakar

5 hours ago 7
Mengapa Mobil Listrik Bisa Mati Mendadak di Rel Kereta Api? Ini Penjelasan Pakar Sopir taksi listrik Green SM yang terlibat kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur.(Dok. Antara)

FENOMENA mobil yang mati mendadak saat melintasi perlintasan kereta api sering kali dikaitkan dengan gangguan medan elektromagnetik. Namun, bagi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), penyebab teknis di balik kejadian tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan mobil konvensional berbahan bakar minyak (ICE).

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, menjelaskan bahwa kegagalan fungsi pada EV saat berada di rel kereta api umumnya berkaitan dengan sistem manajemen energi dan mekanisme proteksi kendaraan. Berbeda dengan mobil ICE yang biasanya mati karena masalah pengapian atau pasokan bahan bakar, EV sangat bergantung pada integritas sistem kelistrikan pintar.

Peran Vital Baterai 12 Volt (Aki)

Salah satu penyebab paling krusial namun sering terabaikan adalah kondisi baterai 12 volt atau auxiliary battery. Meskipun mobil listrik memiliki baterai traksi bertegangan tinggi (HV) untuk menggerakkan motor, seluruh sistem komputer, sensor, lampu, dan perangkat pintar lainnya dijalankan oleh baterai 12V yang serupa dengan aki pada mobil biasa.

Agus menekankan bahwa jika baterai 12V ini mengalami penurunan daya (drop) atau mati, maka main relay atau saklar utama tidak akan bisa menutup. Akibatnya, aliran daya dari baterai besar tidak dapat tersalurkan ke motor penggerak. "Mobil akan mati total meskipun persentase baterai utama masih 80 persen," ungkap Agus.

Sistem Proteksi Otomatis dan Sensor Guncangan

Mobil listrik modern dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan tingkat tinggi untuk mencegah kerusakan permanen atau bahaya kebakaran. Beberapa sistem proteksi yang dapat memicu mobil mati mendadak di rel KA antara lain:

  • High Voltage Interlock Loop (HVIL): Mekanisme ini berfungsi memantau integritas kabel tegangan tinggi. Jika terjadi guncangan keras saat melintasi rel yang tidak rata dan menyebabkan soket kabel longgar atau terdeteksi kebocoran arus ke sasis, sistem akan melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik.
  • Battery Management System (BMS): Sistem ini memantau suhu baterai dan inverter. Jika komponen tersebut mengalami overheating akibat cuaca ekstrem atau kegagalan pompa pendingin, BMS akan memutus aliran daya secara otomatis sebagai langkah perlindungan.

Mitos dan Fakta Gangguan Elektromagnetik

Terkait isu medan elektromagnetik (EMI) di area perlintasan kereta api, terutama pada jalur KRL dengan kabel transmisi atas, para pakar menilai kemungkinannya cukup kecil untuk melumpuhkan EV secara langsung. Medan elektromagnetik ekstrem memang berpotensi mengganggu komunikasi data pada Controller Area Network (CAN) kendaraan, namun teknologi shielding (pelindung) pada mobil listrik modern sudah sangat mumpuni.

Pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menambahkan bahwa mobil listrik memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik. Sebelum dipasarkan, setiap unit EV wajib lolos serangkaian uji kompatibilitas elektromagnetik. "Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api karena medan elektromagnetik," jelas Yannes.

Kesimpulan:

Penyebab utama mobil listrik mati di rel kereta api lebih sering dipicu oleh masalah internal kendaraan seperti kondisi aki 12V yang lemah atau aktifnya sistem proteksi otomatis akibat guncangan fisik, bukan semata-mata karena gangguan magnet dari rel kereta api.

(Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |