Mengenali Kanker Prostat.(Dok. Halodoc)
KANKER prostat merupakan salah satu ancaman kesehatan utama bagi laki-laki, terutama saat memasuki usia lanjut. Penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga gangguan saat buang air kecil kerap disalahartikan sebagai proses penuaan normal.
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah, Andar R. Siregar, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kesehatan prostat. Dalam pertemuan media yang digelar RS Pondok Indah Group, ia menjelaskan bahwa risiko pembesaran prostat dan kanker prostat meningkat signifikan setelah pria melewati usia 50 tahun.
Jangan Abaikan Gangguan Berkemih
Salah satu kondisi yang sering dialami pria lansia adalah benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. Meski bukan kanker, BPH dapat mengganggu aliran urine dengan gejala seperti sering kencing di malam hari, pancaran melemah, hingga harus mengejan.
“Kalau kencing harus mengejan, itu bukan sesuatu yang normal dan jangan dianggap karena sudah tua,” tegas Andar. Ia mengingatkan agar keluhan tersebut segera dikonsultasikan ke dokter untuk memastikan apakah kondisi tersebut sekadar pembesaran jinak atau indikasi keganasan.
Faktor Risiko: Usia hingga Gaya Hidup
Selain faktor usia, riwayat keluarga memegang peranan penting. Laki-laki yang memiliki ayah atau saudara kandung dengan riwayat kanker prostat memiliki risiko lebih tinggi. "Kalau orang tuanya, terutama bapaknya, pernah kena kanker prostat, anak laki-lakinya harus lebih waspada," tambahnya.
Gaya hidup juga menjadi sorotan. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan pola makan tidak seimbang dapat memengaruhi risiko. Andar menyarankan aktivitas fisik rutin dan menjaga berat badan ideal sebagai langkah preventif menjaga kesehatan prostat.
Deteksi Dini dengan Tes PSA
Untuk deteksi lebih dini, pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) sangat disarankan bagi pria berusia 50 tahun ke atas. Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga, pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan lebih awal. Jika hasil PSA menunjukkan peningkatan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti MRI sebelum memutuskan tindakan biopsi.
Terapi dan Kualitas Hidup
Penanganan kanker prostat saat ini telah berkembang pesat, mulai dari operasi robotik, radioterapi, hingga focal therapy seperti HIFU dan cryoablasi. Pemilihan terapi disesuaikan dengan tingkat keganasan kanker dan kondisi fisik pasien.
Andar menegaskan bahwa fokus pengobatan tidak hanya pada pengendalian sel kanker, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien, termasuk fungsi seksual dan kemampuan menahan urine. Deteksi dini melalui medical check-up tetap menjadi kunci utama agar penanganan dapat dilakukan secara optimal dan efektif. (Z-10)


















































