Menlu Iran Kunjungi Tiongkok saat Pentagon Ungkap Biaya Perang

5 days ago 17
Menlu Iran Kunjungi Tiongkok saat Pentagon Ungkap Biaya Perang Abbas Araghchi.(Al Jazeera)

MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada Rabu (16/9) untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Tiongkok, yang secara diplomatik bersekutu dengan Iran dan memiliki kepentingan ekonomi besar di kawasan tersebut, terus menyerukan gencatan senjata. Beijing mendorong penyelesaian melalui negosiasi yang menghormati kedaulatan Teheran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Menteri Luar Negeri Iran Araqchi akan mengunjungi Tiongkok pada 16 September, dan Wang Yi, anggota Biro Politik Komite Sentral PKT sekaligus Menteri Luar Negeri, akan mengadakan pembicaraan dengannya," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam pernyataan resmi.

Kunjungan itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (13/9) membantah laporan Wall Street Journal yang menyebut Beijing memberikan citra satelit pangkalan di Yordania kepada Iran. Laporan tersebut menuding data satelit itu membantu serangan Iran yang menewaskan tiga tentara AS pada Juli lalu. Trump sendiri diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di AS pada 24 September, meski Beijing belum mengonfirmasi pertemuan tersebut.

Pentagon Ungkap Kerugian Besar AS

Bersamaan dengan rencana diplomasi tersebut, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) merilis laporan inspektur jenderal yang mengungkap biaya finansial yang sangat besar akibat konflik dengan Iran. Hingga 29 Juni, biaya perang melawan Iran diperkirakan mencapai US$33,4 miliar atau sekitar Rp514,3 triliun.

Laporan tersebut merinci dampak kerusakan fisik dan kehilangan alutsista yang signifikan:

  • Kerusakan Fasilitas: Serangan Iran merusak ratusan bangunan di pangkalan AS di Timur Tengah, termasuk kerugian US$184 juta (Rp2,8 triliun) pada fasilitas diplomatik di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Emirat Arab.
  • Kehilangan Pesawat: Puluhan pesawat AS hancur atau rusak. Untuk pertama kali, jet tempur generasi kelima F-35A dilaporkan mengalami kerusakan akibat tembakan musuh. Satu unit F-35A diperkirakan berharga US$92 juta (Rp1,4 triliun).
  • Alutsista Lainnya: Empat jet tempur F-15E dan satu pesawat serang darat A-10 hancur. Selain itu, tujuh pesawat pengisi bahan bakar KC-135, tujuh helikopter, dan lebih dari 30 drone dilaporkan hilang.

Penggunaan amunisi yang masif selama konflik ini juga menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkap hambatan dalam basis industri untuk memasok kembali kebutuhan senjata AS. Meski demikian, melalui platform Truth Social, Donald Trump menegaskan bahwa AS saat ini memproduksi senjata paling canggih dan elite dalam sejarah negara tersebut.

Catatan Redaksi: Data biaya dan kerugian alutsista ini merupakan laporan resmi Pentagon yang melacak konflik hingga akhir Juni 2026. (CNBC/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |