Ilustrasi(Magnific)
KANKER paru-paru tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan merokok, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh paparan lingkungan. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah mikroplastik dan nanoplastik, partikel hasil penguraian plastik yang dapat tersebar di udara, makanan, dan air.
Partikel berukuran mikro hingga nano tersebut dapat masuk ke tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi, kontak dengan kulit, maupun melalui pernapasan.
Mengenal Mikroplastik
Plastik digunakan dalam berbagai produk konsumen dan industri, mulai dari mainan, peralatan rumah tangga, kosmetik, tekstil, kemasan hingga bahan bangunan.
Sebagian besar plastik tidak mudah terurai secara alami. Seiring waktu, plastik yang berada di lingkungan dapat mengalami pelapukan dan terpecah menjadi partikel sangat kecil yang disebut mikroplastik dan nanoplastik.
Mikroplastik (MP) merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang telah ditemukan di berbagai ekosistem, termasuk daratan, laut, air tawar dan atmosfer. Keberadaannya juga telah terdeteksi dalam makanan dan air minum.
Partikel tersebut dapat masuk ke rantai makanan setelah terakumulasi pada hewan, seperti ikan dan kerang, yang kemudian dikonsumsi manusia.
Di laut, mikroplastik juga dapat berpindah ke atmosfer melalui gelombang dan angin. Partikel yang berada di permukaan laut dapat terbawa gelembung ke permukaan, lalu masuk ke udara ketika gelembung pecah dan membentuk semprotan laut.
Setelah berada di atmosfer, mikroplastik dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal dan mengalami proses pelapukan. Partikel yang melayang di udara ini dapat terhirup dan mengendap di saluran pernapasan, sehingga keberadaannya menjadi perhatian terhadap potensi dampaknya bagi kesehatan.
Bahaya Mikroplastik
Mikroplastik hingga kini belum diklasifikasikan sebagai karsinogen, tetapi penelitian awal menunjukkan partikel tersebut dapat menimbulkan sejumlah perubahan di dalam tubuh.
Paparan mikroplastik dikaitkan dengan peradangan, gangguan metabolisme lipid, kerusakan DNA, serta gangguan kesehatan usus. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat berperan dalam berbagai gangguan kesehatan.
Sejumlah penelitian juga mulai melihat kemungkinan keterkaitan mikroplastik dengan beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, kolorektal, paru-paru, dan prostat. Namun, hubungan langsung antara paparan mikroplastik dan kanker paru-paru pada manusia belum dapat dipastikan.
Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik
Mikroplastik ada di berbagai lingkungan sehingga paparan sepenuhnya sulit dihindari. Namun, paparan tetap dapat dikurangi dengan membatasi sumbernya dan memilih alternatif yang lebih aman.
Salah satu upaya mengurangi paparan mikroplastik yaitu dengan menghindari pembakaran plastik, terutama di dalam ruangan. Penggunaan dan pemanasan plastik juga perlu diperhatikan. Hindari memanaskan kembali makanan dalam wadah plastik atau mencucinya menggunakan mesin pencuci piring karena panas dan kerusakan dapat mempercepat pelepasan partikel plastik.
Sebagai alternatif, bungkus plastik dapat diganti dengan aluminium foil, sedangkan makanan dan minuman dapat disimpan dalam wadah atau kemasan kaca. Penggunaan kain sintetis di dalam rumah juga dapat dikurangi untuk membatasi paparan serat plastik di udara. Asap rokok juga sebaiknya dihindari
Langkah berikutnya adalah meningkatkan ventilasi dan menggunakan pembersih udara. Pembersih dengan filter HEPA dapat membantu menyaring partikel di udara. Membersihkan rumah secara rutin juga penting. Gunakan pel basah atau kain lembap saat membersihkan debu agar partikel tidak kembali beterbangan ke udara
Mikroplastik masih menjadi perhatian karena potensi dampaknya terhadap kesehatan. Namun, bukti mengenai kaitannya dengan kanker, termasuk kanker paru-paru, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (American Lung Association (ALA)/Royal Society of Chemistry/European Food Safety Authority/Food and Drug Administration/Prevent Cancer Foundation/Z-2)


















































