Minimal Invasive Cardiac Surgery, Tindakan untuk Pemulihan yang lebih Efisien

3 weeks ago 33
Minimal Invasive Cardiac Surgery, Tindakan untuk Pemulihan yang lebih Efisien (DOK HEARTOLOGY)

KETIKA pembuluh darah jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, aliran darah dan oksigen yang dibutuhkan otot jantung dapat terganggu. Jika kondisi ini cukup berat, Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK)/Operasi Bypass Jantung atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) dapat menjadi salah satu pilihan penanganan.

CABG merupakan prosedur pembuatan jalur baru/pintas bagi aliran darah agar dapat melewati pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan. Dengan adanya jalur tersebut, suplai darah dan oksigen ke otot jantung dapat kembali mengalir dengan lebih baik.

Namun, operasi bypass tidak selalu harus dilakukan dengan metode konvensional. Prosedur ini dapat dilakukan dengan pendekatan Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) melalui sayatan yang lebih kecil dan tanpa membelah tulang dada sehingga masa penyembuhan relatif lebih cepat.

“Pada operasi konvensional, tulang dada (sternum) yang dibelah membutuhkan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berlangsung hingga sekitar 12 minggu. Pada MICS, tulang dada (sternum) tetap utuh. Ini berarti pasien tidak perlu menjalani proses penyembuhan tulang dada tersebut, sehingga pemulihan dapat menjadi lebih efisien. Selain itu, risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi tulang dada, juga dapat lebih rendah,” ujar dr Widya Trianita Suwatri, SpBTKV, Subsp. JD(K), dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital.

DAMPAK BAGI PASIEN
Sejumlah penelitian juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Studi yang membandingkan MICS CABG dengan CABG konvensional melalui pembelahan tulang dada (sternotomi) pada pasien dengan multivessel disease menunjukkan bahwa 95,5% pasien MICS CABG berhasil mendapatkan complete revascularization, dibandingkan 96,3% pada operasi melalui sternotomi. 

Artinya, meskipun dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil, pasien tetap mendapatkan revaskularisasi komplit pada seluruh target pembuluh darah. Pada pemeriksaan evaluasi angiografi pasca operasi yang dilakukan sebelum pasien pulang, 96,2% graft pada kelompok MICS CABG dikatakan baik.

“Kalau dijelaskan secara sederhana, angka tersebut menunjukkan bahwa sayatan yang lebih kecil tidak berarti bypass yang dilakukan menjadi lebih sedikit atau kurang optimal. Tujuan utama operasi tetap tercapai, yaitu membuat jalur baru agar darah dapat melewati pembuluh darah koroner yang tersumbat dan kembali menyuplai otot jantung. Complete revascularization pada MICS CABG mencapai 95,5%, hampir sebanding dengan 96,3% pada operasi konvensional. Jadi, yang kita minimalkan adalah sayatan operasinya, bukan target pembuluh darahnya,” jelas Dr dr Dudy Arman Hanafy, SpBTKV, SubspJD(K), MARS.

Penelitian lain pada pasien penyakit jantung koroner dengan diabetes mellitus tipe II juga menunjukkan bahwa pasien yang menjalani MICS CABG memiliki risiko perdarahan intra operasi yang lebih rendah, dengan median 600 mL dibandingkan 700 mL pada CABG konvensional. 

Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan minimal invasif tidak berhenti pada ukuran luka -Tetapi berpotensi mengurangi kebutuhan transfusi darah dan mendukung proses pemulihan pasien setelah operasi.

“Bagi pasien, angka tersebut menunjukkan bahwa kita tetap berupaya mencapai hasil operasi bypass yang optimal dengan trauma operasi yang lebih minimal. Ketika perdarahan selama operasi dapat ditekan dan tulang dada (sternum) tidak perlu dibelah, proses pemulihan pasien berpotensi menjadi lebih efisien. Karena itu, keberhasilan operasi bukan hanya tentang memastikan bypass berjalan dengan baik, tetapi juga membantu pasien agar dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih cepat dan nyaman,” tambah Dr dr Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), MARS. (H-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |