Mungkinkah Negara Teluk Gabung Israel Menyerang Iran?

5 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Sejumlah diplomat senior negara-negara Arab dan negara Muslim menggelar pertemuan darurat pekan ini, dibayangi serangan rudal balistik Iran ke fasilitas migas di Qatar, Saudi, dan Kuwait. Mungkinkah eskalasi yang dipicu serangan Israel ke ladang gas Pars di wilayah Iran itu berubah menjadi perang saudara sesama Muslim?

Serangan Iran di Teluk merupakan pembalasan terhadap serangan Israel di separuh Pars Selatan Iran, ladang gas terbesar di dunia yang dimiliki Republik Islam dan Qatar. Negara-negara Teluk segera mengutuk serangan awal Israel yang memicu pembalasan Iran, namun menanggapinya dengan kemarahan terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud memperingatkan Iran bahwa toleransi terhadap serangan mereka terhadap negaranya dan negara-negara Teluk tetangganya terbatas. Ia menyerukan Teheran untuk segera “menghitung ulang” strateginya.

Ia mengingatkan bahwa Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya memiliki “kapasitas dan kemampuan yang sangat signifikan” yang dapat dimanfaatkan jika mereka memilih untuk menyerang. 

Menteri luar negeri tersebut mengatakan pada konferensi pers Kamis pagi bahwa Iran telah dengan hati-hati merencanakan strateginya untuk menyerang negara-negara tetangganya. Hal ini disangkal diplomat Teheran.

"Kesabaran yang ditunjukkan tidak terbatas. Apakah mereka [Iran] punya waktu sehari, dua, seminggu? Saya tidak akan mengirim telegram mengenai hal itu," tambahnya.

"Saya berharap mereka memahami pesan pertemuan hari ini dan segera menghitung ulang serta berhenti menyerang tetangga mereka. Namun saya ragu mereka memiliki kebijaksanaan itu."

Peringatan Pangeran Faisal ini menyusul pertemuan para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Islam di ibu kota Saudi pada hari sebelumnya untuk membahas perluasan perang di wilayah tersebut, yang pada hari Rabu menyaksikan serangan Iran terhadap situs-situs energi Teluk, termasuk fasilitas gas Ras Laffan di Qatar, yang dilaporkan mengalami kerusakan signifikan, dan fasilitas gas Habshan ⁠ di Uni Emirat Arab.

Yang hilang dari pernyataan dari Riyadh adalah kecaman terhadap Israel dan Amerika Serikat atas serangan terhadap ladang gas Pars yang dijadikan dalih Iran menyerang fasilitas migas di negara-negara Teluk. 

Iran merasa, Saudi, Qatar, dan Kuwait adalah sasaran yang absah sehubungan ada pangkalan militer AS di negara-negara itu. Pangkalan Al Udeid di Qatar, misalnya, adalah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah. Sebanyak 10 ribu tentara AS ada di pangkalan itu, demikian juga markas besar Komando Sentral AS (CENTCOM) yang mengorkestrasi serangan ke Iran.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |