Warga Iran melintasi papan reklame raksasa anti-AS yang bertuliskan dalam bahasa Persia berbunyi Pasukan setan akan ditenggelamkan di Teluk Persia, Alun-Alun Enghelab, Teheran, pada 14 September 2026.(AFP/ATTA KENARE)
IRAN kembali melontarkan ancaman keras terhadap militer Amerika Serikat (AS) melalui papan iklan (billboard) raksasa baru di Teheran. Mural tersebut memperingatkan bahwa tentara Amerika akan ditenggelamkan di Teluk Persia.
Sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu, berbagai papan iklan yang disponsori negara terus bermunculan di ibu kota Iran tersebut. Beberapa di antaranya menggambarkan Donald Trump dan keluarganya di dalam peti mati, Gedung Putih yang terbakar, hingga pesan-pesan balas dendam yang menyeramkan.
Simbolisme Mitologi dan Ancaman Nyata
Pada Senin (15/9), mural terbaru muncul di Lapangan Revolusi Islam, pusat kota Teheran. Gambar tersebut menampilkan sosok pahlawan legendaris Persia yang menghantam kapal induk AS. Pesan dalam bahasa Inggris dan Farsi tertulis, "Dari Teluk Persia kekuatan baru bangkit" dan "Tentara Setan akan ditenggelamkan di Teluk Persia."
Ancaman ini muncul hanya beberapa hari setelah mural lain yang memperlihatkan tentara AS mengangkut peti mati berselimut bendera Amerika ke dalam pesawat militer dengan tulisan, "Siapkan peti mati kalian."
Laporan Pentagon: Kerusakan Pangkalan dan Krisis Amunisi
Pesan-pesan provokatif itu muncul bersamaan dengan rilis laporan perdana pengawas pemerintah AS mengenai konsekuensi perang Iran. Laporan tersebut mengakui ada kekurangan persenjataan canggih dan memberikan penilaian publik pertama mengenai kerusakan yang dialami pesawat, pangkalan, dan fasilitas diplomatik Amerika di seluruh Timur Tengah.
Laporan dari Inspektur Jenderal Pentagon, yang pertama kali diungkap oleh NBC News, mencatat beberapa poin krusial:
- Krisis Amunisi: Konflik menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan hambatan basis industri untuk pasokan ulang munisi canggih. Analis memperkirakan butuh waktu tiga tahun bagi kontraktor pertahanan untuk memulihkan stok rudal ke level sebelum konflik.
- Kehancuran di Bahrain: Fasilitas angkatan laut AS di Bahrain, yang berfungsi sebagai pusat logistik, hancur akibat serangan pesawat tak berawak (drone) dan rudal balistik Iran.
- Logistik Terhambat: Komando Pusat AS terpaksa mengalihkan rantai pasokan ke lokasi yang jauh lebih jauh, seperti Diego Garcia di Samudra Hindia, yang memperpanjang siklus logistik menjadi 14 hingga 18 hari.
Kutipan Pejabat: "Mereka menghancurkan Bahrain berkeping-keping," ujar Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut, Hung Cao, dalam wawancara pekan lalu. Ia kini membentuk satuan tugas untuk menilai apakah pangkalan tersebut masih layak diperbaiki.
Respons Donald Trump
Meskipun laporan pengawas menunjukkan ada tekanan pada stok senjata, Pentagon secara konsisten membantah kekurangan munisi. Presiden Donald Trump, melalui pesan media sosial pada Senin (14/9), menegaskan bahwa AS sedang memproduksi senjata elite dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya dalam sejarah.
"Senjata-senjata itu dikirimkan setiap hari ke pasukan kita di Timur Tengah dan sekitarnya," tulis Trump.
Namun, laporan pengawas yang mencakup periode 1 April hingga 30 Juni mengonfirmasi bahwa serangan Iran merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta struktur tambahan di instalasi AS yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, hingga Yordania. (The Daily Express/I-2)


















































