Pengujung mangamati koleksi fosil di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026).(ANTARA/Rakha Raditya Yahya)
MUSEUM Nasional Indonesia, yang berada di bawah naungan Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya (MCB), kini tengah bertransformasi menjadi ruang edukasi dan ekspresi kebudayaan yang lebih inklusif. Langkah ini diambil untuk mendefinisikan ulang peran museum di era modern.
Penanggung Jawab Museum Nasional Indonesia, Muhammad Rasyid Ridlo, menegaskan bahwa esensi museum modern terletak pada keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaannya. Hal tersebut disampaikannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, dikutip Jumat (11/9).
"Kalau kita menjawab apa sih museum modern itu, adalah museum yang dalam pengelolaannya melibatkan aktif publiknya," ujar Rasyid.
Menurut Rasyid, paradigma pengelolaan museum saat ini telah bergeser. Masyarakat tidak lagi hanya diposisikan sebagai pengunjung yang datang untuk melihat koleksi secara pasif, tetapi didorong untuk terlibat langsung dalam berbagai agenda kegiatan yang diselenggarakan pihak museum.
Program Inklusif dan Ruang Ekspresi
Secara konkret, Museum Nasional telah meluncurkan berbagai inisiatif yang merangkul komunitas, seniman, pelaku industri kreatif, hingga kelompok penyandang disabilitas. Salah satu program unggulannya adalah Mantra (Musik, Nada, dan Tradisi), yang menjadi wadah kolaborasi seni tradisional dan modern.
Selain itu, museum juga membuka diri sebagai lokasi berbagai aktivitas seni, mulai dari pertunjukan gamelan, tari, hingga lokakarya tematik yang disesuaikan dengan koleksi atau ruang pamer yang tersedia. Ruang-ruang museum kini dialihfungsikan menjadi panggung ekspresi bagi semua kalangan, termasuk pengembangan musik bagi penyandang disabilitas.
| Program Publik | Mantra (Musik, Nada, dan Tradisi), pertunjukan tari, gamelan, dan lokakarya tematik. |
| Inklusivitas | Ruang ekspresi dan pengembangan musik bagi penyandang disabilitas. |
| Aksesibilitas | Perpanjangan waktu kunjungan pada hari dan waktu tertentu. |
| Integrasi Teknologi | Tiket daring, akses informasi layanan digital, serta sistem konservasi dan perlindungan koleksi berbasis teknologi. |
Relevansi Narasi bagi Generasi Muda
Untuk menarik minat generasi muda, Museum Nasional melakukan penguatan narasi pada setiap koleksinya. Rasyid menjelaskan bahwa penempatan koleksi kini dilakukan dengan menghadirkan konteks yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
"Koleksi ditempatkan dalam konteks yang relevan dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda," tambahnya.
Tak hanya dari sisi konten, pembenahan juga menyasar pada kualitas layanan. Penggunaan teknologi kini dioptimalkan mulai dari sistem pembelian tiket masuk hingga pada aspek teknis seperti konservasi, pengelolaan, dan perlindungan koleksi agar tetap terjaga bagi generasi mendatang. (Ant/Z-1)


















































