Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di lahan kosong.(Dok Istimewa)
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bandung Barat menghadapi tantangan berat dalam penanganan kebakaran selama musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino. Selain meningkatnya potensi kebakaran, keterbatasan armada dan menyusutnya sumber air menjadi persoalan utama yang dihadapi petugas di lapangan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung Barat, Siti Aminah, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya hanya memiliki 10 unit kendaraan operasional. Jumlah tersebut terdiri dari sembilan unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit rescue.
Angka ini dinilai masih jauh dari ideal untuk melayani 16 kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang cukup luas. Siti merinci bahwa mayoritas unit yang tersedia sudah berusia tua.
"Kita hanya ada 9 unit pemadam dan 1 rescue, dan kondisi unit rata-rata di atas 10 tahun. Yang paling baru itu tahun 2025 ada 1 unit dan 3 unit tahun 2021, yang lainnya mobil tua. Kalau idealnya per kecamatan itu 2 unit," ujar Siti, Minggu (23/8).
Kondisi armada yang terbatas dan berusia tua ini berdampak langsung pada response time atau waktu respons petugas ke lokasi kejadian. Risiko keterlambatan penanganan semakin tinggi terutama jika kebakaran terjadi di wilayah yang jauh dari pos pemadam.
Selain penambahan armada, Siti menekankan pentingnya keberadaan pos Damkar di setiap kecamatan untuk mempercepat pelayanan. Saat ini, Damkar Bandung Barat baru memiliki tujuh pos yang tersebar di:
- Mako Pemkab Bandung Barat
- Lembang
- Parongpong
- Cikalongwetan
- Cipatat
- Cililin
- Sindangkerta
"Idealnya Damkar ada di setiap kecamatan, sehingga lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan," ungkapnya.
Tantangan petugas tidak berhenti pada masalah armada. Ketersediaan sumber air menjadi persoalan serius lainnya di tengah musim kemarau. Siti menyebutkan bahwa sebagian besar sumber air mulai menyusut, sehingga petugas sering kesulitan mendapatkan pasokan air untuk proses pemadaman.
Menurutnya, setiap desa idealnya memiliki sumber air mandiri yang dapat dimanfaatkan untuk penanganan kebakaran sekaligus membantu masyarakat yang terdampak kekeringan. Dalam kondisi darurat, petugas bahkan terpaksa menggunakan sumber air seadanya.
"Sumber air seperti dari PDAM atau lainnya sangat terbatas. Kalau ada kejadian, akhirnya air selokan pun disedot jika memungkinkan," pungkas Siti.


















































