Nelayan di Kota Pariaman, Sumbar memindahkan ikan hasil tangkapannya ke dalam mobil untuk diangkut dan dipasarkan.(ANTARA)
Nelayan di Kota Pariaman, Sumatera Barat, tetap memilih untuk melaut guna menangkap ikan meskipun cuaca buruk kerap melanda wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Meski berisiko, aktivitas perikanan tetap berjalan dengan penyesuaian armada dan waktu tangkap.
Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Zainal, mengungkapkan bahwa operasional di laut saat ini didominasi oleh kapal bagan. Sementara itu, nelayan tradisional yang menggunakan pukat payang dan pancing cenderung lebih berhati-hati.
"Kapal bagan tetap beroperasi, sedangkan nelayan tradisional pada umumnya tidak melaut. Namun, tetap ada yang melaut meskipun hasilnya tidak maksimal," ujar Zainal di Pariaman, Jumat (21/8).
Zainal menjelaskan, kapal bagan masih mampu bertahan menghadapi gelombang karena ukurannya yang besar. Hal ini berbeda dengan nelayan tradisional yang menggunakan kapal relatif kecil sehingga lebih rentan terhadap cuaca ekstrem. Kendati demikian, para nelayan di Pariaman dibekali pengetahuan dan naluri kuat dalam membaca tanda-tanda alam.
"Jika nelayan merasa cuaca akan buruk, mereka dipastikan tidak melaut. Naluri ini jarang meleset," tambahnya. Untuk menyiasati cuaca, nelayan tradisional biasanya mulai berlayar pada subuh hari dan kembali saat siang, mengingat cuaca buruk cenderung terjadi pada sore hari.
Stok Ikan Tetap Terjaga
Meskipun cuaca buruk memengaruhi volume produksi ikan tangkap, Zainal memastikan stok komoditas perikanan di Pariaman masih terjaga. Hal ini dimungkinkan berkat koordinasi yang kuat antara pengusaha perikanan setempat dengan nelayan di daerah tetangga.
Pariaman menjalin kerja sama distribusi dengan Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pasaman Barat untuk saling menutupi kekurangan pasokan. "Begitu juga sebaliknya, jika stok di sini melimpah, agen daerah lainnya juga meminta ikan ke Pariaman. Jadi Pariaman tidak pernah kekurangan ikan," jelasnya.
Penurunan produksi saat ini dinilai sebagai siklus tahunan yang wajar. Penurunan ini biasanya akan diikuti oleh masa produksi melimpah pada bulan-bulan berikutnya. Saat ini, rata-rata produksi ikan di Pariaman mencapai sekitar 6.500 ton per tahun, yang dihasilkan oleh sembilan kapal bagan serta ratusan nelayan tradisional.


















































