Nilai, Kebijakan, dan Kolaborasi untuk Penguatan Keluarga

1 week ago 19
Nilai, Kebijakan, dan Kolaborasi untuk Penguatan Keluarga Ilustrasi(magnific)

KELUARGA merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam sistem sosial masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Menguatkan institusi keluarga memiliki makna krusial karena keluarga yang kuat akan melahirkan individu berkarakter, masyarakat kohesif, serta negara yang kokoh. Pada akhirnya, ketahanan domestik ini berkontribusi pada pembentukan kawasan yang maju dan berperadaban.

Menyadari tantangan global yang memicu pergeseran nilai dan melemahnya ikatan keluarga, Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) menyelenggarakan Konferensi Tingkat Asia Pasifik di Jakarta pada Sabtu (12/9/2026). Konferensi ini mengusung tema besar “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara Sekawasan: Menguatkan Peran dan Kepemimpinan Perempuan di Asia Pasifik”.

Nilai Agama sebagai Benteng Modernisasi

Salah satu kekhasan kawasan Asia Pasifik adalah dimensi nilai keagamaan yang tumbuh damai berdampingan, mulai dari Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Konfusianisme. Nilai-nilai ini diyakini menjadi perekat ketahanan keluarga dan sumber kekuatan moral bagi perempuan dalam menghadapi arus destruktif modernisasi.

Perempuan dengan pemahaman agama yang kokoh dinilai mampu menjalankan peran sebagai pendidik pertama generasi (al-madrasatul ula). Dengan landasan nilai yang kuat, perempuan memberikan warna kesalehan sosial bagi seluruh anggota keluarga.

Tantangan Kontemporer: Perceraian hingga Kesehatan Mental

Dalam diskusi panel Komisi Nilai, Kebijakan & Kolaborasi yang dimoderatori oleh Dr. Astriana Baiti Sinaga, para pakar membedah ancaman internal terhadap struktur keluarga. Prof. Dr. Ir. Luluk Setyaningsih, S.Hut., M.Si., menyoroti perubahan struktur keluarga yang dipicu oleh faktor ekonomi dan sosial.

“Fakta menunjukkan tingginya angka perceraian, di mana dominasi cerai gugat lebih tinggi dibandingkan cerai talak. Hal yang memprihatinkan, permasalahan kesehatan mental kini menghantui 1 dari 3 orang, dan fenomena ini bahkan terjadi di lingkungan sekolah Islam,” ungkap Prof. Luluk.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Heru Susetyo, S.H., LL.M., Ph.D., memaparkan fenomena keluarga modern kontemporer di mana pernikahan kini sering dianggap sekadar pilihan, sehingga ikatannya lebih mudah terurai. “Anak-anak sekarang cenderung mencari ketenangan dengan caranya sendiri, bukan lagi bersumber dari keluarga atau nilai agama yang dianutnya,” jelasnya.

Data Tantangan Keluarga & Mental (Paparan Konferensi):

Kategori Temuan / Fakta
Tren Perceraian Dominasi Cerai Gugat melampaui Cerai Talak.
Kesehatan Mental Rasio 1 dari 3 orang mengalami masalah mental (termasuk di sekolah berbasis agama).
Perilaku Anak Mencari ketenangan di luar lingkaran keluarga dan nilai agama.
Negara Peserta Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Integrasi Pendekatan Agama dan Psikologis

Konferensi yang dihadiri peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura ini juga menangkap aspirasi mengenai pola penanganan masalah di institusi pendidikan. Salah satu peserta menekankan bahwa permasalahan di sekolah atau pesantren tidak cukup hanya diselesaikan dengan pendekatan agama, tetapi juga memerlukan pendekatan psikologis yang tepat.

Hasil akhir yang diharapkan dari konferensi ini adalah terintegrasinya nilai keagamaan yang moderat sebagai fondasi peran perempuan di ruang publik maupun domestik. PBKM menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas lokal, sejak tahap perencanaan kebijakan agar lebih berpihak pada kesejahteraan keluarga. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |