Obesitas Tingkatkan Risiko Gangguan Reproduksi Perempuan

3 hours ago 1
Obesitas Tingkatkan Risiko Gangguan Reproduksi Perempuan Diskusi media bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women's Health yang digelar Novo Nordisk Indonesia.(Dok.Istimewa)

OBESITAS tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan siklus menstruasi, ovulasi, infertilitas, hingga komplikasi kehamilan sehingga memerlukan penanganan komprehensif berbasis sains.

Hal itu mengemuka dalam diskusi media bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women's Health yang digelar Novo Nordisk Indonesia. Diskusi tersebut mengangkat pentingnya pemahaman mengenai dampak obesitas terhadap kesehatan perempuan di berbagai fase kehidupan, termasuk kaitannya dengan gangguan hormonal dan metabolik seperti Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Cynthia Agnes Susanto, mengatakan obesitas merupakan penyakit metabolik kronis yang memengaruhi berbagai aspek kesehatan perempuan, mulai dari metabolik, kardiovaskular, kesehatan mental hingga reproduksi.

"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan siklus menstruasi, ovulasi, infertilitas, hingga komplikasi kehamilan. Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif sesuai evaluasi dokter," ujarnya.

PREVALENSI OBESITAS
Data menunjukkan prevalensi obesitas di Indonesia masih tinggi. Sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas. Angka tersebut lebih tinggi pada perempuan, yakni 36,4%, dibandingkan laki-laki yang mencapai 24,4%.

Cynthia menjelaskan, salah satu kondisi yang berkaitan erat dengan obesitas adalah PMOS, yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan istilah tersebut mencerminkan perkembangan pemahaman ilmiah bahwa penyakit itu tidak hanya menyerang ovarium, tetapi juga merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.

Menurutnya, PMOS menjadi penyebab paling sering gangguan ovulasi. Sekitar 35% hingga 50% perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas yang dapat memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi dan metabolik.

"Pada sebagian perempuan, obesitas dapat memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sebaliknya, perubahan hormonal dan metabolik akibat PMOS juga membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang," katanya.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Penatalaksanaan meliputi perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga bedah bariatrik pada kasus tertentu.

Salah satu terapi yang kini tersedia adalah GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA), yang bekerja mengatur mekanisme rasa lapar dan kenyang di otak. Terapi tersebut dapat diberikan berdasarkan evaluasi dokter sebagai pelengkap perubahan gaya hidup untuk membantu pengelolaan berat badan secara berkelanjutan.

PENGARUHI KUALITAS HIDUP
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan obesitas tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan penampilan.

"Obesitas merupakan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya edukasi, Novo Nordisk Indonesia menghadirkan platform NovoCare.id yang menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, mulai dari kalkulator indeks massa tubuh (BMI), faktor risiko, hingga panduan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Melalui edukasi tersebut, perusahaan berharap semakin banyak perempuan memahami obesitas sebagai penyakit kronis yang dapat ditangani secara tepat sehingga kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang dapat terus ditingkatkan. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |