Oman Tunda Pertemuan Regional Bahas Rute Maritim Baru di Selat Hormuz

6 days ago 4
Oman Tunda Pertemuan Regional Bahas Rute Maritim Baru di Selat Hormuz Ilustrasi(AFP)

PEMERINTAH Oman menunda pertemuan regional yang semula dijadwalkan berlangsung pada Senin (14/9) di Salalah, wilayah selatan negara tersebut. Pertemuan itu sedianya membahas pengaturan rute maritim baru di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Kementerian Luar Negeri Oman mengumumkan penundaan tersebut pada Minggu (13/9) malam. Pertemuan akan dijadwalkan kembali pada waktu yang belum ditentukan dengan tujuan menciptakan kondisi yang dinilai lebih kondusif untuk berlangsungnya dialog konstruktif.

Oman menyatakan keputusan itu diambil untuk membuka ruang bagi pembicaraan yang dapat menghasilkan pemahaman jangka panjang. Kesepahaman tersebut diharapkan dapat mendukung keamanan dan stabilitas kawasan sekaligus memenuhi keinginan negara-negara regional untuk memperkuat kerja sama dan perdamaian.

"Demi konsensus, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda," tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengonfirmasi penundaan tersebut melalui unggahan di platform media sosial X.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama yang langgeng di kawasan kami," tambahnya.

Dalam unggahan tersebut, Albusaidi turut menampilkan bendera Bahrain, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Negara-negara tersebut sebelumnya diperkirakan menjadi peserta dalam pertemuan regional.

Namun, Albusaidi tidak memberikan informasi mengenai jadwal baru pertemuan maupun alasan spesifik yang menyebabkan agenda tersebut ditunda.

Bahrain Tolak Pertemuan dengan Iran

Penundaan pertemuan Oman terjadi sehari setelah Bahrain menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan tingkat menteri regional yang melibatkan Iran.

Kementerian Luar Negeri Bahrain pada Sabtu mengatakan Manama tidak akan mengikuti pertemuan menteri bersama Iran selama hubungan diplomatik kedua negara belum dipulihkan.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap laporan mengenai rencana pertemuan tingkat menteri yang akan membahas perkembangan dan situasi keamanan di Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, sebelumnya mengatakan pada Jumat (12/9) bahwa pertemuan tersebut akan diselenggarakan oleh Oman. 

Pertemuan direncanakan berlangsung pada tingkat menteri luar negeri dan melibatkan delapan negara yang berbatasan dengan kawasan Teluk.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian menjelaskan agenda pertemuan tersebut. Dalam wawancara dengan media berbahasa Arab yang berbasis di London, Al-Araby Al-Jadeed, Araghchi mengatakan bahwa agenda utama, dan memang satu-satunya, dari pertemuan ini adalah rute maritim baru di Selat Hormuz.

Menurut Araghchi, Iran dan Oman telah menyelesaikan kesepakatan terkait rute baru tersebut, termasuk peta dan pernyataan bersama yang menjelaskan mekanisme pengaturannya.

Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut sama sekali tidak berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka seperti sebelumnya.

Ketegangan Iran dan Negara Teluk

Bahrain merupakan salah satu negara Teluk yang terdampak ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dalam konflik tersebut, Iran sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi yang disebut berkaitan dengan keberadaan militer AS di Bahrain.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah Pangkalan Udara Isa. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer AS terhadap sejumlah target di Iran.

Ketegangan semakin meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Tehran kemudian merespons dengan menyerang sejumlah target militer Israel dan AS di berbagai wilayah.

Pada Juni, AS dan Iran disebut menandatangani Memorandum Islamabad melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut kemudian terhambat akibat perselisihan terkait status dan pengelolaan Selat Hormuz.

AS kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Agustus. Tehran kemudian merespons dengan menyerang sejumlah aset militer AS yang berada di beberapa negara Arab yang merupakan sekutu Washington.

Situasi tersebut membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Penundaan pertemuan regional di Oman pun menambah ketidakpastian mengenai upaya negara-negara kawasan untuk mencapai kesepakatan terkait jalur pelayaran strategis tersebut. (Anadolu/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |