Orang Utan Berulang Kali Cari Makan di Pinggir Jalan Poros Sangatta(Antara)
SATWA dilindungi endemik Kalimantan, orang utan, kembali memantik perhatian publik setelah dilaporkan berulang kali menampakkan diri di kawasan publik. Seekor individu bertubuh besar terpantau aktif mencari makan di pinggir jalur lintas kendaraan bermotor.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, kemunculan satwa berbulu cokelat kemerahan tersebut bukan sekadar insiden tunggal. Berdasarkan keterangan warga setempat, satwa dilindungi itu telah terlihat sedikitnya tiga kali beraktivitas di sekitar jalur penghubung penting di wilayah Kabupaten Kutai Timur.
"Sudah hampir tiga kali saya lihat ada orang utan di jalan itu. Kadang mereka di pinggir jalan, kadang juga langsung menyeberang," ujar Yuristio, seorang warga yang kerap melintas di jalur tersebut saat ditemui di Sangatta, Senin (14/9).
Jalan poros penghubung Sangatta dan Rantau Pulung yang menjadi lokasi kemunculan satwa ini letaknya beririsan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Kutai (TNK), yang selama ini diyakini sebagai habitat utama primata tersebut.
Biasanya, orang utan berukuran besar ini muncul pada sore hari menjelang senja. Posturnya yang masif bahkan kerap mengecoh pengguna jalan, tampak sekilas menyerupai batang kayu besar yang tergeletak di tepi aspal.
Aktivitas satwa liar di ruang terbuka ini memicu kekhawatiran serius terkait risiko kecelakaan lalu lintas (laka lantas), mengingat volume kendaraan yang melintas di jalur poros tersebut cukup tinggi.
"Biasanya kendaraan itu harus berhenti dulu menunggu orang utan menyeberang jalan atau hewan itu masuk ke dalam hutan," tutur Yuristio.
Fakta tersebut terbukti langsung di lapangan. Saat tim ANTARA melintasi Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung pada Senin (14/9/2026) sore, terlihat satu individu orang utan Kalimantan berukuran besar dan berwarna cokelat kemerahan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit di pinggir jalan. Satwa tersebut tampak tenang memakan pucuk dedaunan sebelum akhirnya kembali merayap masuk ke dalam tutupan hutan.
Fenomena keluarnya satwa liar dari zona konservasi menuju tepi jalan raya mengindikasikan adanya tekanan ekologis, keterbatasan pakan di area inti, atau perlintasan alami yang terfragmentasi aktivitas manusia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi berwenang terkait langkah mitigasi, pemasangan rambu peringatan perlintasan satwa (wildlife crossing), atau patroli pengawasan intensif di sepanjang Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung.
Masyarakat dan para pengguna jalan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi laju kendaraan saat melintas di dekat kawasan TNK pada sore hari, serta tidak mencoba mendekati, memberi makan, atau memprovokasi satwa liar dilindungi tersebut demi keamanan bersama.
(Ant/P-4)


















































