Menhut memberikan piagram penghargaan kepada Owner Faunaland, Danny Gunalen.( Dok. Faunaland)
KOMITMEN terhadap konservasi dan perlindungan satwa liar di Indonesia semakin diperkuat melalui kolaborasi antara Vantara dari India dan Faunaland Indonesia. Dalam rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, memberikan apresiasi khusus kepada Danny Gunalen, CEO Faunaland dan Sir Ajit Kulkarni, CEO Vantara. Atas kontribusi dan komitmen mereka dalam mendukung upaya konservasi satwa liar di Indonesia.
Apresiasi tersebut merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi Faunaland dan Vantara dalam memperkuat upaya perlindungan keanekaragaman hayati, khususnya melalui pengembangan kapasitas, layanan kesehatan satwa dan dukungan terhadap konservasi satwa liar di Indonesia.
Danny menyatakan, apresiasi dari Kementerian Kehutanan menjadi dorongan bagi Faunaland untuk terus memperkuat perannya dalam mendukung upaya konservasi di Indonesia.
“Kami berterima kasih atas apresiasi yang diberikan Kementerian Kehutanan. Bagi kami, apresiasi ini bukan hanya merupakan pengakuan atas apa yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga satwa dan keanekaragaman hayati Indonesia," ungkap Danny kemarin.
Menurut Danny, Vantara merupakan pusat penyelamatan, rehabilitasi dan konservasi satwa liar berskala besar yang berbasis di Jamnagar, India, dan didirikan oleh Shri Anant Ambani. Pengalaman tersebut diperkuat melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pendidikan, termasuk melalui Vantara University, yang diresmikan pada April 2026. Bagi Faunaland, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk terus memperkuat kapasitas konservasi di Indonesia sekaligus membangun jejaring dengan institusi konservasi internasional.
“Kami percaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja bersama, pertukaran pengetahuan, serta dukungan teknologi dan keahlian agar upaya perlindungan satwa di Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam memperkuat upaya konservasi di Indonesia. Tema HKAN 2026, “Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia,” juga menegaskan pentingnya keterlibatan pemerintah, dunia usaha, lembaga konservasi, masyarakat dan mitra internasional dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.
Salah satu bentuk kontribusi Vantara terhadap upaya konservasi di Indonesia adalah penyediaan lima unit Vantara Animal Ambulance. Ambulans khusus satwa ini dirancang untuk mengevakuasi satwa liar dan memberikan penanganan medis awal, khususnya gajah. Kendaraan tersebut dilengkapi fasilitas khusus untuk mendukung penanganan medis serta kerja tim dokter hewan di lapangan.
"Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam merespons kondisi darurat yang melibatkan satwa liar, terutama di wilayah terpencil dan sulit dijangkau," terangnya.
Selain penyediaan animal ambulance, Vantara juga akan mendukung upaya Indonesia dalam mencegah ancaman Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) pada gajah Sumatra melalui penyediaan vaksin EEHV sebagai langkah preventif.
Kolaborasi Vantara dengan Indonesia dalam bidang kesehatan gajah bukan merupakan hal baru. Pada akhir 2025, Kementerian Kehutanan telah bekerja sama dengan Vantara dalam melakukan pemeriksaan kesehatan dan langkah-langkah pencegahan terhadap ancaman EEHV pada gajah Sumatera. Tim dokter hewan spesialis gajah dari Vantara juga telah melakukan pemeriksaan awal serta mempelajari kondisi kesehatan dan kesejahteraan gajah di Indonesia.(E-2)


















































