Abbas Araghchi.(Al Jazeera)
INSTALASI militer Amerika Serikat di Bahrain mengalami kerusakan parah akibat pertempuran dengan Iran dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini diakui oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, yang memicu Washington untuk mengevaluasi keberadaan markas besarnya di Timur Tengah.
"Mereka menghancurkan Bahrain berkeping-keping (blew the hell out of Bahrain)," ujar Hung Cao dalam wawancara dengan The Epoch Times pada Rabu (9/9). Pernyataan ini merupakan pengakuan resmi yang jarang terjadi mengenai dampak konflik terhadap fasilitas utama AS di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi pengakuan tersebut melalui platform X. "Kami menghargai kejujuran Plt Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao. Angkatan Bersenjata kami memang benar-benar menghancurkan markas Armada ke-5 di Bahrain serta pangkalan lain yang mendukung agresi AS," tulisnya.
Kerusakan Parah di Markas Armada ke-5 Bahrain
Data dari sumber terbuka menunjukkan bahwa pangkalan Naval Support Activity (NSA) di Bahrain terkena serangan balasan setelah AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari. Pangkalan ini dilaporkan menjadi target berulang kali antara Februari hingga Juni.
Investigasi The Wall Street Journal yang menganalisis citra satelit dan rekaman media sosial menyimpulkan bahwa serangan Iran menyebabkan kerusakan luas yang awalnya tidak diakui oleh Pentagon. Pusat komando dan sedikitnya belasan bangunan lain di dalam fasilitas tersebut terkena dampak serius.
Laksamana Daryl Caudle, perwira tinggi Angkatan Laut AS, menyatakan awal bulan ini bahwa NSA Bahrain tidak akan kembali beroperasi dalam waktu dekat. Kerusakan ini juga berdampak pada operasional kapal induk USS Abraham Lincoln, karena kru tidak memiliki tempat untuk bersandar, yang kemudian memicu krisis kesehatan mental di kalangan pelaut akibat penempatan yang diperpanjang.
Serangan di Pangkalan Al-Azraq Yordania
Selain Bahrain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga meluncurkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, yang dikenal sebagai pangkalan Al-Azraq. Serangan ini menargetkan lokasi persiapan jet tempur F-35, F-16, dan F-15.
Meskipun angkatan bersenjata Yordania mengeklaim berhasil mencegat 18 dari 20 rudal, laporan CBS News menyebutkan beberapa pesawat militer AS tetap mengalami kerusakan. Satu pesawat serang A-10 Thunderbolt dilaporkan kehilangan sayap, sementara delapan jet F-15 mengalami kerusakan ringan.
Pangkalan Al-Azraq merupakan aset vital bagi AS yang terletak sekitar 100 km dari Amman. Iran mengrklaim telah menyerang pangkalan ini lebih dari 10 kali sejak Maret hingga September, termasuk serangan pada 17 Juli yang dikonfirmasi oleh Centcom menewaskan dua tentara AS.
Dampak Luas pada Aset Militer AS
Laporan dari Layanan Riset Kongres AS pada Mei mencatat bahwa 42 pesawat militer AS telah hilang atau rusak dalam konflik ini. Sejak perang dimulai pada Februari, 18 tentara AS tewas dan lebih dari 800 lain luka-luka.
Analisis BBC pada Juni menunjukkan Iran merusak sedikitnya 20 situs militer AS di delapan negara Timur Tengah, termasuk:
- Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi (pesawat pengintai dan pengisian bahan bakar).
- Pangkalan Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait (bunker bahan bakar dan hanggar).
- Pangkalan Al Ruwais dan Al Sader di UEA (sistem baterai anti-balistik senilai Rp15,5 triliun per unit).
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Timur Tengah bukan lagi tempat yang aman bagi pangkalan militer Amerika Serikat. (Al Jazeera/I-2)


















































